<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8938059393783141372</id><updated>2012-02-16T19:44:42.859-08:00</updated><title type='text'>To Poso</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://simurudotcom.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>christian simuru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04165711740216658641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/SnqVGVKa7QI/AAAAAAAAAC0/Hx8Nt7i1lnA/S220/edit+finising.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>21</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8938059393783141372.post-6921049080498683251</id><published>2009-07-16T05:51:00.001-07:00</published><updated>2009-07-16T06:15:57.294-07:00</updated><title type='text'>Penutup</title><content type='html'>Seperti sudah saatnya saya menutup tulisan ini sebab tidak ada topik yang menarik untuk dibahas karena beberapa tulisan di chapter 6 sampai 12 adalah bagian dari pengalaman iman seorang Kruyt sebagai missionaries (zending). Selanjutnya tanpa mencoba masuk ke nilai-nilai ke Kristenan. Pada akhir tulisannya dijelaskan bahwa Papa i Wunte merupakan kepala suku pertama yang dibabtis dan menjadi Kristen serta meninggalkan kepercayaan “kafirnya”. Pengaruh Papa i Wunte kemudian memyebabkan hampir sebagian besar to Pebato menganut kepercayaan baru.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/Sl8lfG52XwI/AAAAAAAAACI/gd3RP_gnmi8/s1600-h/foto-2.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/Sl8lfG52XwI/AAAAAAAAACI/gd3RP_gnmi8/s320/foto-2.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5359043297953603330" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;( foto: Komunitas baru dari himpunan suku to Pebato. daerah itu diberinama Kasiguncu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring besarnya pengaruh Kerajaan Belanda di Napu dan Luwu maka kedua daerah yang merupakan pusat kerajaan suku terkuat di daerah Sulawesi Tengah dapat ditaklukan. Kehidupan to Poso menjadi lebih baik karena mereka tidak lagi menghadapi tekanan yang begitu besar dari kedua kerajaan suku itu sehingga perang antar suku semakin berkurang.&lt;br /&gt;Penulis tidak menutup mata dengan kehadiran Bangsa Belanda di Tana Poso selain untuk memperlebar daerah jajahanya, mereka pula juga menjalankan misi pengkristenan pada suku-suku yang belum mengenal Tuhan Yang Maha Kuasa. Kata pengkristenan yang saya tulis bukan bermaksud menyudutkan pihak manapun Sebab saya sendiri sulit mencari padanan kata yang lebih tepat terhadap salah satu misi yang mereka lakukan di tanah to Poso, dan daerah lain di Indonesia dimana mereka membangun benteng pertahanan dan koloni.&lt;br /&gt;Analisa lain yang saya simpulkan dari tulisan ini adalah&lt;br /&gt;1. keberadaan Zending ditengah-tengah suku pedalaman merupakan sebuah langkah berani pemerintah belanda untuk mempelajari segala sesuatu tentang kebudayaan dan potensi alamnya. Sebab di daerah lainpun tidak sedikit Zending yang dibunuh dalam upaya menelusuri kehidupan masyarakat suku pedalaman yang di isilahkan dengan orang kafir.&lt;br /&gt;2. menurut saya Kruyt seolah olah ingin mengukapkan secara tersirat praktek penjajahan pada suku lain itu tidak baik. ini jelas terlihat dari alur kisah penulisan yang menceritakan bagaimana suku Pebato di tindas oleh suku Napu, (seolah olah mewakili praktek penjajahan oleh negaranya sendiri)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya tanpa menutup mata dengan apa yang dilakukan belanda pada negara Indonesia sebelum memerdekaakan diri tahun 1945. Saya rasa tidak ada salahnya kita patut bersukur keberadaan Zending selain melakukan Kristenisasi mereka telah membawa sebuah pengetahuan baru yang sebelumnya tidak kita temukan.&lt;br /&gt;Sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;joke&lt;/span&gt; untuk pembaca yang budiman saya akan bertanya secara pribadi. dapatkah anda bayangkan kehidupan masyarakat Indonesia tanpa campur tangan asing. ya meskipun mereka itu penjajah = = (saya sebenarnya lebih suka yang jajah orang inggris sebab banyak wilayah bekas jajahan inggris lebih maju ketimbang bekas wilayah jajahan belanda. tapi lebih senang lagi kalau Indonesia dulu menjadi kerajaan yang menaklukan dunia dibawah pimpinan si Patih Gaja Madah yang ganteng  sekali), &lt;br /&gt;Jujur saja saya sendiri sampai saat ini  membayangkan bila kita tidak bersentuhan dengan pihak asing mungkin saja tulisan ini tidak akan pernah ada, serta kita mungkin tidak mengenal apa itu ilmu pengetahuan. Mungkin saja saya sekarang sedang ditengah hutan pedalaman tanah poso. Mengendap-endap dan menanti anda yang mencoba melewati perbatasan wilayah suku kami . xixixi atau sebaliknya  ==” .&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8938059393783141372-6921049080498683251?l=simurudotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://simurudotcom.blogspot.com/feeds/6921049080498683251/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/penutup.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/6921049080498683251'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/6921049080498683251'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/penutup.html' title='Penutup'/><author><name>christian simuru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04165711740216658641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/SnqVGVKa7QI/AAAAAAAAAC0/Hx8Nt7i1lnA/S220/edit+finising.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/Sl8lfG52XwI/AAAAAAAAACI/gd3RP_gnmi8/s72-c/foto-2.gif' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8938059393783141372.post-3374716468898644190</id><published>2009-07-16T05:50:00.000-07:00</published><updated>2009-07-16T07:16:35.317-07:00</updated><title type='text'>Pembahasan chapter 6 sampai 12  (bagian 3)</title><content type='html'>Bila dongeng luar negeri menceritakan sosok mahluk elf yang dapat berubah menjadi binatang, atau manusia siluman yang dapat berubah menjadi serigala, di tanah poso kisah seperti itupun ada dan dilukiskan oleh to Poso dalam tulisan Kruyt sebagai sosok manusia yang melakukan praktek ilmu sesat atau yang lebih lasim dikenal dengan istilah “pongko”  pongko dapat diartikan sejenis ilmu hitam yang dipraktekan oleh dukun yang kebanyakan adalah perempuan. Mereka yang mempraktekan ilmu hitam ini disebut to Mepongko atau orang yang berilmu hitam dan jampi-jampi atau guna-gunanya dikenal oleh to Poso dengan sebutan doti-doti.&lt;br /&gt;Menurut kepercayaan to Poso, To Mepongko biasanya memiliki kemampuan untuk berubah wujud  seperti hewan rusa dan lain-lain. Khusus untuk bagian ini penulis sebenarnya tidak mood menceritakannya akan tetapi mengingat tulisan ini dipersembahkan sebagai pengetahuan umum maka dengan berat hati penulis akan menceritakan beberapa cerita tentang to Mepongko.&lt;br /&gt;Kisah tentang kemampuan mistis diseluruh dunia pasti sudah familiar ditelinga kita. Kitapun mengenal jenis ilmu putih dan ilmu hitam, Ilmu putih dianggap oleh masyarakat sebagai ilmu yang baik karena ilmu ini digunakan untuk tujuan pengobatan dan atau melawan kekuatan mistik jahat yang sengaja dikirimkan oleh seseorang karena perselisihan melalui perantaraan seorang dukun hitam. &lt;br /&gt;Dukun hitam bagi to Poso kemudian diistilahkan dengan kata to Mepongko  ( si sesat yang keberadaan di benci oleh masyarakat) dan dukun putih dikenal sebagai imam-iman dan dihormati oleh masyarakat.&lt;br /&gt;Menurut saya perbedaan dukun putih dan hitam untuk masyarakat poso sangat jelas. Dukun putih tidak disebut to Mepongko bahkan mempunyai posisi yang istimewa didalam sebuah komunitas, karena selain menjadi media komunikasi antara masyarakat komunitas dengan roh leluhur. Mereka juga bekerja sebagai tabib yang dituntut harus dapat menyebuhkan penyakit termasuk penyakit kiriman ( guna-guna) didalamnya. Sedangkan dukun hitam posisi mereka didalam kehidupan komunitas dianggap sampah sebab keberadaanya hanya menyebabkan ketakutan dan keresahan masyarakat. Biasanya to Mepongko diidentikan dengan orang yang suka memakan hati manusia. dan harus dibunuh.&lt;br /&gt;Menurut cerita yang masyarakat sewaktu penulis masih kecil, Konon seseorang yang mepongko dapat memakan hati manusia dengan cara menepuk pundak orang tersebut. Proses memakan hati si korban tidak pada saat itu juga melainkan pada waktu ia sedang tertidur pulas dimalam hari. Entah benar atau hanya mengada-ada dikatakan bahwa mereka yang makan hatinya tidak sadarkan diri dan keluarga yang menyaksikannya keesokan harinya melihat si korban masih dalam keadaan tertidur pulas namun tanpa hembusan nafas. Dikatakan pula mereka yang pernah membedah tubuh korban dari praktek pongko akan menemukan keganjilan pada isi perut si korban. Keganjilan yang dimaksudkan adalah hati si korban menghilang seolah-olah telah dibedah pada waktu malam harinya.&lt;br /&gt;Buruknya image to Mepongko dimata masyarakat menyebabkan mereka yang diduga melakukan praktek perpongkoan ^0^ sebagai musuh seluruh komunitas dan harus dibunuh. Para imam yang memahami praktek ini menyarankan ketika mereka ditepuk pundaknya oleh seorang yang dicurigai sebagai to Mepongko harus membalasnya dengan menepuk kembali pundak si mepongko, tujuannya untuk mengimunekan diri dari doti-dotinya.  Selain itu to Mepongko konon immortal dan kebal terhadap serangan fisik, untuk membunuhnya  seseorang harus menggunakan batang pohon dari sejenis tanaman Tomene ke bayangan tubuh si mepongko.  selain itu to Mepongko biasanya memiliki peliharaan seperti kuntilanak dan kalomba yang diberimakan jenis makanan tertentu. &lt;br /&gt;Menurut penulis tidak menutup kemungkinan jenis makanan  yang dimaksudkan adalah hati manusia. Konon katanya bila peliharaanya tidak diberimakan maka ia akan memakan hati tuanya. ( huaa sial bgt harus cerita kaya gini uekkk @_@. Buat yang penasaran bagaimana deskripsi peliharaan tersebut silakan link ke blog  penulis yang lama di wwwpamonazone@blogspot)  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(BRB MUNTAH)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8938059393783141372-3374716468898644190?l=simurudotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://simurudotcom.blogspot.com/feeds/3374716468898644190/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/pembahasan-chapter-6-samapi-12-bagian-3.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/3374716468898644190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/3374716468898644190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/pembahasan-chapter-6-samapi-12-bagian-3.html' title='Pembahasan chapter 6 sampai 12  (bagian 3)'/><author><name>christian simuru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04165711740216658641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/SnqVGVKa7QI/AAAAAAAAAC0/Hx8Nt7i1lnA/S220/edit+finising.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8938059393783141372.post-6303309010887070115</id><published>2009-07-16T05:49:00.000-07:00</published><updated>2009-07-16T07:16:07.688-07:00</updated><title type='text'>Pembahasan chapter 6 sampai 12  (bagian 2)</title><content type='html'>Kematian seseorang di jaman Papa i Wunte merupakan bencana bagi kelangsungan hidup orang lain dikarenakan kehidupan to Poso pada jaman itu sangat “barbar” Tidak perduli penyebab kematiannya, seseorang harus di bunuh untuk dijadikan tumbal. Proses mencari tumbal dapat dilakukan dengan 2 cara yakni membeli calon tumbal (biasanya orang-orang yang telah lanjut usia dari suku lain) atau dengan cara pengayau ( berburuh kepala manusia dari suku bebuyutannya). Semakin banyak tumbal yang dikorbankan semakin tenang pula jiwa keluarga mereka yang meninggal.&lt;br /&gt; Khusus untuk calon tumbal yang dibeli, penulis pernah mendengar kisah mengerikan dari seorang anak yang masa kecilnya dihabiskan disebuah tempat disebuah suku pemakan manusia di daerah kalimatan. Kisah anak itu sangat mengerikan dan alm nenekku begitu serius menceritakan pada kami ketika masih kecil, itu terlihat jelas dari sorot mata nenekku yang merasa senang karena cucunya terdiam berharap segera tertidur dan melupakan semua cerita itu. Inti cerita alm nenek ku kurang lebih sebagai berikut: &lt;br /&gt;Alkisah anak kecil tersebut dititipkan oleh orang tuanya dirumah neneknya yang tinggal di Poso. Suatu hari ketika mereka sedang pergi kekebun tanpa sengaja sang nenek mendengar cucunya merencanakan untuk memakan si nenek. Rencana tersebut ternyata bukan usapan jempol belaka karna si cucu  sudah mempersiapkan rempah-rempah dan menyiapkan parang (sejenis golok) untuk membunuh si nenek. Ketika si cucu pergi ke sungai untuk mengasah parangnya agar lebih tanjam, si nenek mengambil kesempatan tersebut untuk melarikan diri menuju kampung mereka. Entah bagaimana usah si nenek melarikan diri akhirnya ia tiba di kampung dan menceritakan cerita tersebut. Kontan saja seluru penghuni di kampung geger dan segera mengamankan cucu si nenek, saat di interogasi oleh kepala suku si cucu dengan polos berkata “ aku ingin memakan daging manusia karena daging manusia merupakan daging yang paling enak dibanding daging babi hutan, anoa atau rusa gunung”. &lt;br /&gt; Belakangan baru di ketahui bahwa tempat tinggal si cucu di kalimatan memiliki tradisi yang mengerikan dimana orang-orang yang sudah lanjut usia seperti neneknya akan disuruh naik ke sebuah pohon di tengah perkampungan. Pohon yang telah dinaiki oleh orang-orang lanjut usia tersebut kemudian di goyang sedemikan rupa sehingga orang-orang tua yang ada diatasnya jatuh ketanah. Mereka yang jatuh ketanah kemudian dikumpulkan untuk menjadi menu utama mereka. Sedangkan orang-orang tua yang masih bergelantungan diturunkan kembali dan mengikuti acara “kanibalis” sambil menunggu hari-hari dimana tangan dan kaki mereka tidak kuat lagi berpegangan diatas pohon dan dijadikan menu makan pada upacara selanjutnya. &lt;br /&gt;Kesan saya awalnya adalah “ betapa gila cucu tersebut, tidak ada kalimat manusia yang pantas untuk mendeskripsikan perilaku menyimpang dari anak itu. Sanagat berbanding 180º dengan kebiasaan to Poso yang sangat menhormati orang yang lebih tua. Bahkan menyebut nama orang tua saja sudah sangat tabu bagi to Poso. Namun setelah saya membaca buku psikologi, perilaku anak tersebut tidak dapat disalahkan karena ia hanya meniru (imitasi) dan lingkungannya pada saat itu meng”ia”kan kebiasaan tersebut sehingga ia terkonformit oleh orang-orang yang ada disekitarnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8938059393783141372-6303309010887070115?l=simurudotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://simurudotcom.blogspot.com/feeds/6303309010887070115/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/pembahasan-chapter-6-samapi-12-bagian-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/6303309010887070115'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/6303309010887070115'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/pembahasan-chapter-6-samapi-12-bagian-2.html' title='Pembahasan chapter 6 sampai 12  (bagian 2)'/><author><name>christian simuru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04165711740216658641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/SnqVGVKa7QI/AAAAAAAAAC0/Hx8Nt7i1lnA/S220/edit+finising.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8938059393783141372.post-5758570064306300027</id><published>2009-07-16T05:48:00.000-07:00</published><updated>2009-07-16T07:15:36.001-07:00</updated><title type='text'>Pembahasan chapter 6 sampai 12  (bagian 1)</title><content type='html'>Tidak dapat dipungkiri pengaruh Agama Kristen sangat besar dikehidupan to Poso saat ini karena mayoritas masyarakat poso menganut agama tersebut, akan tetapi keyakinan to Poso pada roh leluhur begitu kental tidak hanya pada jaman Papa i Wunte saja. Sebagai salah satu contoh to Poso yang hidup saat ini khususnya mereka yang hidup dipedesaan masih memiliki kebiasaan untuk bersiarah ke kuburan kakek / nenek (buyut) mereka untuk berbicang-bincang seolah-olah berhadapan langsung ( face to face) dengan mereka yang telah meninggal. Banyak hal yang bicarakan dari masalah sepeleh seperti mohon restu karna salah satu cucunya akan berangkat sekolah ditempat yang jauh, sampai masalah-masalah penting. &lt;br /&gt;Akan tetapi menurut pendapat saya sendiri kebiasaan-kebiasaan berbicara di depan kuburan leluhur itu sifatnya relative tergantung dengan kaca mata apa kita menilainya. Sebab bila dari segi budaya to Poso sangat-sangat menghormati orang tuanya apalagi leluhur mereka. Bahkan orang tua yang bersiarah ke makan / kuburan leluhur, melarang anak-anaknya menujuk langsung kuburan leluhurnya karna itu tindakan tidak sopan dan anak-anaknya sepulang dari makam akan sakit demam / pusing. selain itu rumor mengenai marga yang disandang dibelakang nama depan to Poso saat ini merupakan nama salah satu leluhur mereka. Sehingga sangatlah wajar bila kebiasaan itu dilakukan sebagai bentuk penghormatan seorang anak pada ayahnya. Dalam tulisan Kruyt pada chapter 6 jelas sekali dilukiskan bagaimana kesedihan Papa i Wunte mengenai buyutnya yang belum mengenal Tuhan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8938059393783141372-5758570064306300027?l=simurudotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://simurudotcom.blogspot.com/feeds/5758570064306300027/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/pembahasan-chapter-6-samapi-12-bagian-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/5758570064306300027'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/5758570064306300027'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/pembahasan-chapter-6-samapi-12-bagian-1.html' title='Pembahasan chapter 6 sampai 12  (bagian 1)'/><author><name>christian simuru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04165711740216658641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/SnqVGVKa7QI/AAAAAAAAAC0/Hx8Nt7i1lnA/S220/edit+finising.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8938059393783141372.post-4521653419807193743</id><published>2009-07-16T05:46:00.000-07:00</published><updated>2009-07-17T05:21:03.270-07:00</updated><title type='text'>chapter 12 Kemenangan Injil</title><content type='html'>Sekarang Papa i Wunte  menanggap saatnya telah tiba untuk secara tebuka mengakui kebenaran ajaran Kristen, Setelah zendeling Hofman pada tangal 4 Juli 1909 berkhotbah mengenai Zakheus, Papa i Wunte beridiri dan berpidato kepada mereka yang hadir,” anda sekalian  telah mendengar perkataan  bapak zendeling: Tuhan Yesus ingin naik ke tempat tinggal kita  juga, tetapi sampai sekarang kita tidak mau menyambut kedatanganya.Tetapi sekarang marilah kita mengikuti kata-kata yang baik ini. Ada yang mengatakna kalau mereka diundang untuk datang pada kebaktian hari Minggu, “ Dulu akau sudah pernah pergi”. Seolah-olah itu sudah cukup. Hal itu masih mungkin dalam pekerjaan dikebun dimana kalau kita Cuma bekerja satu atau dua kali  suda ada hasil.&lt;br /&gt;Tetapi pergi  ke pertemuan  pada hari minggu  kita harus berdoa kepada Tuhan. Itu sebabnya saya menasehati semua kepala desa  dan kepala keluarga : marilah kita  mengumpulkan  anak-anak kita, dan bersama-sama merundingkan  untuk menjadi  orang Kristen. Kemudian  kita akan memutuskannya  bersama pada esok hari.”&lt;br /&gt;Bapak Hofman  masih menulis  kepada kami, : Pidato  ini sangat berkesan kepada kami, karena  baru kali ini Papa i Wunte yang begitu dihormati oleh semua orang  mengajak mereka  secara umum dan terbuka  untuk menjadi  orang Kristen. Bagi kami, yang senantiasa melihat suasana naik dan turun seperti arus gelombang  laut, inilah saat yang mengharukan.&lt;br /&gt; Karena bagaimanapun perkembagannya lebih lanjut  pada prinsipnya telah ada suatu keputusan. Papa i Wunte  sendiri mulai menebang pohong kekafiran.” Dan memang begitulah  kenyataanya. Setiap hari Sabtu  malam ditentukan waktu  untuk mempersiapkan  para calon batisan.&lt;br /&gt;Dan pada hari Natal pertama tahun 1909 sekitar 100 orang dewasa dan anak dibatis di Kasiguncu, dan pada hari berikutnya  lagi 66 orang dari longkida.&lt;br /&gt; Orang yang paling gembira  dari semua orang yang dibaptis ialah Ine i Maseka, yang dalam tangan Tuhan paling berperan untuk mendorong  suaminya  mengambil  langkah  yang penting ini. Selama upacara  babtisan dia selalu sibuk untuk menunjukan  kepada orang yang akan dibaptis  bagaimana caranya mereka perlu berlutur dan melepaskan kain kepala, supaya air babtisan dapat menetes di dahi mereka&lt;br /&gt; Saya hadir dalam upacara ini, karena bapak Hofman  telah minta pertolonganku. Karena  penyakitnya  ia sudah tidak mampu melakukan  semuannya sendiri. Pada akhir upacara baptisan ada suatu acara makan yang gembira, dimana saya duduk di sebelah Papa i Wunte. Selama waktu  makan bersama itu, ia menceriterakan  kepadaku  mengapa  ia begitu  lama masih ragu untuk mengambil langkah yang menentukan , “ Apa yang terjadi dengan kami  tidak lain daripada apa yang terjadi dengan suatu tentara orang Toraja dulu. Tentara itu terdiri  dari orang Napu, Orang Pebato,Orang Lage dan orang lain lagi. Kalau suatu desa direbut, setiap  orang mengambil beberapa tawanan ke wilayahnya. Begitupula Jiwa –jiwa manusia . Jiwa-jiwa  yang ditangkap  oleh Roh-roh hutan  dibawa kedalam hutan; orang yang ditangkap oleh Anitu, dibawah ke wilayah mereka, Dan para jiwa yang dikuasai Allah, dibawahNya di Sorga. Lama sekali aku tidak mau ditangkap Allah . Aku seperti anak panah dalam panahan, kadang-kadang lepas, kadang-kadang tegang untuk ditembahkan, tetapi aku tidak pernah mau ditembakan.&lt;br /&gt; Aku selalu berpikir akan anggota keluargaku yang tidak mau ikut, dan yang bisanya membutuhkan saya untuk melakukan  upacara  pengorbanan dan perkara keagamaan yang lain. Tetapi setelah pemerintah Belanda datang saya mengatakan  bahwa sekarang semua beres, sekarang kita semuanya dapat hidup secara damai, Namun saya merasa ada benarnya perkataan para zendeling yang mengatakan  bahwa perdamaian  itu hanya berlaku dalam hidup ini, jadi bagaimana dengan jiwamu nanti, kalau anda belum membiarkan dirimu ditangkap Allah?&lt;br /&gt; Dan sekarang aku telah berkata, bahwa hal ini harus terjadi; aku tidak boleh lagi memandang keluargaku  yang tidak mau ikut. Dan sekarang aku telah menyerahkan diriku, hatiku sekarang diarahkan kepada Tuhan Allah,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/Sl8kBcwtJnI/AAAAAAAAAB4/77tGcjfejBY/s1600-h/acara-sukuran.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/Sl8kBcwtJnI/AAAAAAAAAB4/77tGcjfejBY/s320/acara-sukuran.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5359041688913127026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;( foto: kegiatan mempersiapkan ucapan syukur berupa masak-memasak )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8938059393783141372-4521653419807193743?l=simurudotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://simurudotcom.blogspot.com/feeds/4521653419807193743/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/chapter-12-kemenangan-injil.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/4521653419807193743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/4521653419807193743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/chapter-12-kemenangan-injil.html' title='chapter 12 Kemenangan Injil'/><author><name>christian simuru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04165711740216658641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/SnqVGVKa7QI/AAAAAAAAAC0/Hx8Nt7i1lnA/S220/edit+finising.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/Sl8kBcwtJnI/AAAAAAAAAB4/77tGcjfejBY/s72-c/acara-sukuran.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8938059393783141372.post-6966606003193398857</id><published>2009-07-16T05:45:00.002-07:00</published><updated>2009-07-16T06:19:20.815-07:00</updated><title type='text'>chapter 11  Persiapan Pertobatan dan penundaan terakhir</title><content type='html'>Meskipun Papa i Wunte   semakin terbuka ia belum dapat mengambil langkah terakhir yang memutuskan. Sekarang ia mengajukan ,” kalau saja Raja Luwu tidak lagi menguasai kami, kami dapat menjadi Kristen.”&lt;br /&gt; Raja Luwu tersebut, yang berasal dari wilayah selatan Tanah Poso . Sejak dulu menjadi penguasa wilayah Orang Poso. Raja itu, yang selalu dihormati oleh semua ayah dan kakek dari mereka yang sekarang hidup. telah menjadi semacam dewa dalam pandangan mereka Mereka berpendapat  bahwa perpindahan  agama sekaligus berati pemberontakan terhadap Raja Luwu, dan itu pasti akan menyebakan suatu luapan kemarahan dari roh-roh nenek moyang mereka, yang selalu setia pada raja tersebut.&lt;br /&gt; Syukur bahwa pada tahu 1906 pemerintah Belanda  mulai campur tangan dengan tegas dalam keadaan di Sulawesi Selatan dan Sulawes Tengah. Kebebasan  yang berlebihan dari orang Napu  dibatasi; kerajaan-kerajaan orang Bugis, a.l. di Luwu ditaklukan. Kerajaan Luwu dipaksakan untuk mengirim  utusan-utusan  kewilayah disekitar danau Poso, guna mengumumkan kepada para kepala Orang Poso, bahwa Raja Luwu telah melepaskan kuasanya atas wilayah mereka, sehingga mereka tidak lagi perlu berurusan dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/Sl8olsUGVxI/AAAAAAAAACQ/IuyMPQipz_M/s1600-h/foto-3.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/Sl8olsUGVxI/AAAAAAAAACQ/IuyMPQipz_M/s320/foto-3.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5359046709609912082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;( foto: Missionaris Hofman bersama anak didiknya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Missionaris Hofman yang telah mengambil alaih peranan sayam berhasil mengumpulan beberap desa orang Pebato dalam suatu desa yang baru. Pusa desa yang baru ini, Kasiguncu, terdiri dari kedua desa Papa i Wunte, yaitu  Panta dan Mopayawa. dimana kami sudah bekerja  bertahun-tahun. Seringkali bapak Hofman pergi dari temapt tinggalnya di Poso ke kasiguncu guna menyusun tata desa itu, dan untuk mendorong orang untuk berpindah. Dalam semua hal itu Papa i Wunte selalu menolongnya dengan setia dan rajin . Sebuah gedung sekolah mulai dibagun, dan banyak anak dikupulkan disitu. Dan pada waktu ruamh zending  yang baru telah selesai, Keluarga Hofman pinda dari Poso ke desa yang baru itu.&lt;br /&gt; Berkat perkembagan ini seluruh Tana Poso, dan khususnya wilayah  yang pusatnya ialah desa Papa i Wunte, telah memasuki  suatu tahap baru. Pengaruh Luwu telah dihilangkan  dan kami sangat berharap  bahwa sekarang Papa i Wunte menjadi Kristen. Tetapi hal itu belum terjadi. Kadang-kandang kami malah memperoleh kesan bahwa ia mau mundur menuju jalan-jalan tua. Meskipun pengalaman itu mengecewakan kami, namun kami sekaligus gembira melihat bahwa penerimaan Injil  membutuhkan pengabdian yang lebih besar dari pada yang kami bayangkan. Semua hambatan yang bersifat lahiriah sudah dihilangkan; dalam perkara-perkara yang umum orang selalu mengikuti  nasehat para missionaris&lt;br /&gt; Seorang dari luar, yang tiba di Kasiguncu dapat saja berpikir bahwa ia telah tiba dalam kampung Kristen. Namun tampaknya tuntutan pertobatan  membutuhkan  suatu pengabdian  yang lebih besar  dari pada apa yang dipikirkan dan mengenai hal itu kami bersukacita&lt;br /&gt;Jikalau perkara ini hanya tergantung pada Ine i Maseka , istri Papa i Wunte  selalu hadir dalam pertemuan pada hari minggu, tetapi pemberitan Injil yang dilaksanakan bapak Hofman, atau yang dibawah oleh Dr Adriani dan saya, tidak menerima tangapan karena ia selalu berdiam diri&lt;br /&gt;Ia masih memerlukan persiapan lebih banyak, dan hal itu disediakan dari pihak sekolah, Sekolah itu telah mendidik beberapa murid, dan sebagai pemuda mereka ingin menjadi Kristen, Para Orangtua tidak setiap minggu  di mana menurut sekolah ini akan dipersiapkan guna menerima baptisan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8938059393783141372-6966606003193398857?l=simurudotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://simurudotcom.blogspot.com/feeds/6966606003193398857/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/chapter-11-persiapan-pertobatan-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/6966606003193398857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/6966606003193398857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/chapter-11-persiapan-pertobatan-dan.html' title='chapter 11  Persiapan Pertobatan dan penundaan terakhir'/><author><name>christian simuru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04165711740216658641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/SnqVGVKa7QI/AAAAAAAAAC0/Hx8Nt7i1lnA/S220/edit+finising.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/Sl8olsUGVxI/AAAAAAAAACQ/IuyMPQipz_M/s72-c/foto-3.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8938059393783141372.post-503588830392433615</id><published>2009-07-16T05:45:00.001-07:00</published><updated>2009-07-16T05:45:43.518-07:00</updated><title type='text'>chapter 10 Kusa Injil yang semakin nampak</title><content type='html'>Kami telah menjelaskan kebiasaan Orang Poso untuk merampas kerbau-kerbau dari orang yang masih berkeluarga  dengan suatu pihak yang berhutang. Pernah salah satu “anak” Papa i Wunte perlu menagih hutangnya di Poso. Tetapi orang yang berhutang  disitu mengirimnya  kepada orang lain, yang mengirimnya kepada orang lain lagi, sehingga  pada akhirnya ia tidak tahu lagi mau kemana untuk memperoleh lagi nilai hutang itu. Pada waktu orang ini  datang mengeluh kepada Papa i Wunte, nampaknya tidak ada jalan keluar yang lain dari pada pergi menangkap beberapa kerbau  dari Orang Poso. Kemudian  mereka  yang memiliki  kerbau itu pasti akan datang, dan Papa i Wunte akan menjawab” tolong kalian lebih dahulu memutuskan  siapa yang perlu membayar  hutang kepada Padjo ( si penagih hutang), dan baru kemudian  kerbau itu dapat dikembalikan.” Ia cukup bijaksana untuk meminta persetujuan pemerintah setempat, dan mereka tidak keberatan.&lt;br /&gt; Pada suatu malam yang gelap gulita, sekitar 30  lelaki orang Pebato  dibawah  pimpinan Papa i Wunte menyeberangi  sungai Poso. Mereka maju  dengan  hati-hati tanpa keributan,  karena kalau kehadiran mereka diketahui  pasti misi mereka akan gagal. Namun  mereka beruntung  karena dekat desa Sayo terdapat  empat kerbau  yang diikat pada waktu malam dan baru pada siang hari dibawah  ke tempat rumput oleh anak-anak, Diam-diam keempat  kerbau dilepas dan dibawa ke seberang sungai Poso.&lt;br /&gt; Tentu pencurian ini langsung diketahui pada pagi hari yang berikut. Semua orang mengerti bahwa hilangnya kerbau itu mempunyai maksud tersendiri, Jadi mereka mengikuti jejak- jejak kerbau, dan tiba disungai dimana Papa i Wunte dengan orangnya telah menuggu. Orang Poso dikepalai  oleh seorang anak raja dari Tojo, yang cukup berpengaruh di Poso. Kepala ini bernama Kolombi, bersikap amat sombong dan kasar. Pada kemudian hari ia bertabrakan dengan pemerintah Belanda, ditahan dan meniggal pada umur yang masih muda dalam pengasingan. Sekarang ia memaki kata-kata begitu kasar dan  menghina terhadap Papa i Wunte, sehingga orangnya telah mengeluarkan parang-parang mereka, dan hanya menunggu tanda dari pemimpin mereka untuk menyerang.&lt;br /&gt; Namun tanda itu tidak pernah diberikannya. Sambil berdiam diri Papa i Wunte kembali dengan anak buahnya yang telah naik darah. Pada waktu peristiwa ini disebarkan di wilayah suku Pebato, banyak  orang mendesak Papa i Wunte supaya ia pergi menghukum desa Sayo. Penduduk disana juga menyiapkan dirinya bagi suatu serangan, dan menguatkan  desa Sayawose, Tetapi pada kesempatan ini Papa i Wunte bersikap teguh. Saya tidak akan berperang lagi”, ia menjelaskan, “ kami tidak sama seperti beberapa tahun yang lalu. Firman Allah yang dibawa para Zendeling tidak mengizininkannya. Kami akan menyelesaikan perkara ini dengan suatu denda saja” kepala yang lain berusaha suapaya malunya dibangkitkan, karena kalau keberanian seOrang Poso diragukan ia pasti mau membela diri, Namun karena kuasa Injil, Papa i Wunte  tetap teguh.&lt;br /&gt; Biarlah saya masih memberi suatu contoh lagi  yang membuktikan  bahwa  kuasa Injil  mulai menguatkan  Papa i Wunte. Hal itu terjadi pada tahun 1904, jadi pada waktu pemerintah Belanda ingin mengatur wilayah kekuasaannya di Indonesia dengan lebih mantap. Di Sulawesi Tengah terdapat seorang kontroleur, bapak Engelenburg, yang ingin menertibkan keadaan. Ia berusaha mengajar orang Napu bahwa mereka tidak lagi boleh merampas  dan membakar  semau-maunya. Belum jelas bagaimana caranya orang Napu perlu ditekan. tetapi mereka sendiri sudah mulai menduga sesuatu. Itulah sebabnya  suasana menjadi tegang sekali. Setiap kelompok orang Napu  dicurigai orang Belanda, dan mereka juga mungkin takut terhadap kami. Pada waktu yang sama terdapat kabar angin yang nampaknya  menandakan celaka.&lt;br /&gt; Pernah saya berada dengan bapak Hofman. yang baru  saja tiba di Panta, ketika dua pesuruh dari kepala Tomasa datang dengan suatu pesan bahwa perwakilan kami yang baru didirikan  di kuku telah terancam  oleh  suatu kelompok orang Napu. dan bahwa guru kami  disitu, telah dibunuh, Kepala tersebut, Papa i Malepo, adalah seorang yang sangat serius, sehingga kami tidak lagi meragukan kebenaran berita ini. Oleh karena itu  saya dan saudara Hofman mulai menyiapkan diri untuk pergi ke Kuku. Namun muncul suatu pertanyaan  apakah pada waktu  bersamaan tempat kami di Buyu Mbayau  tidak akan diserang pula. Tetapi  kami tidak dapat berada didua tempat sekaligus. Sebelum  kami berangkat, kami mohon Papa i Wunte untuk menyertai kami. Ia datang dengan beberapa kepala menyertai kami. Kami beritahukan pesa buruk yang telah kami terima dari Tomasa, dan bertanya apakah guru dari Buyu Mbayau akan aman dengan mereka. Tanpa keraguan Papa i Wunte langsung menjawab:” Guru itu adalah salah satu dari kami; siapa menyakitinya, Juga menyakiti kami. Dia dan keluarganya pasti aman dengan kami.” &lt;br /&gt;Perjalanan kami ke Tomasa tidak jadi karena dua pesuruh lain dari kepala yang sama telah muncul, dan memberitahukan bahwa wilayah Kuku ternyata tidak terancam sama sekali, &lt;br /&gt;Pada waktu saya merenungkan  perkataan Papa i Wunte, saya teringat  akan suatu peristiwa beberapa tahun lebih dahulu. Waktu itu juga ada kabar angin bahwa orang Luwu sedang  datang untuk mengusir semua orang Belanda dan guru mereka. Pada waktu itu tidak ada Orang Poso yang berani mendekati rumah para guru di Buyu Mbayau atau di Panta, karena mereka takut dianggap sebagai teman guru-guru tersebut, Ternyata ada rombongan  utusan ornag Luwu datang ke Poso. Tetapi mereka hanya membawa suatu permintaan maaf dari raja mereka karena melalaikan sesuatu. Pada waktu saya membandingkan dua peristiwa ini, saya perlu mengakui kuasa Injil telah memberikan kekuatan kepada Papa i Wunte&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8938059393783141372-503588830392433615?l=simurudotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://simurudotcom.blogspot.com/feeds/503588830392433615/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/chapter-10-kusa-injil-yang-semakin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/503588830392433615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/503588830392433615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/chapter-10-kusa-injil-yang-semakin.html' title='chapter 10 Kusa Injil yang semakin nampak'/><author><name>christian simuru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04165711740216658641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/SnqVGVKa7QI/AAAAAAAAAC0/Hx8Nt7i1lnA/S220/edit+finising.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8938059393783141372.post-1082630716347350818</id><published>2009-07-16T05:44:00.001-07:00</published><updated>2009-07-16T05:44:59.493-07:00</updated><title type='text'>chapter 9. Kuatnya kuasa kegelapan menghambat penerbosan injil</title><content type='html'>Lebih dari satu kali kami mendapatkan kesan bahwa pengaruh Injil  terhadap Papa i Wunte sama sekali tidak berati. Pada waktu kepala desa Mapane. Papa i Wata, meninggal dunia pada tahun 1901, Papa i Wunte begitu terikat akan persahabatan  dengan kepala ini sehingga ia merasa suatu keharusan untuk mengorbankan seseorang dikuburannya. Kuasa kekafiran sepenuhnya menguasainya lagi. Tanpa sepengetahuan keluarga Adriani, ia membeli seorang  perempuan  yang tua di Panta. Setengah jam  menjelang  desa Mapane  korban itu dipotong, dan kuburan Papa i Wata dihiasi dengan rambut  kepalanya. Kami  mau membahas perkara ini secara serius dengannya, tetapi ia diam, sehingga kami tidak tahu apa pemikirannya.&lt;br /&gt; Pada waktu yang hampir sama kami mendapat kabar  bahwa Papa i Wunte mau berjalan  ke Wilayah  musuh bebuyutannya, orang Kinadu, untuk memperoleh kepala manusia lebih banyak guna menyelesaikan waktu berkabung terhadap seorang bibi. Kami sudah tahu jalan pemikiran pada peristiwa serupa, ” kamu pasti tidak mengasihi bibimu, sehingga kami tidak mau pergi mencari beberapa kepala untuk jiwanya”. Karena perkataan begitu Papa i Wunte merasa dirinya dipermalukanm dan ia memutuskan untuk menghadapi  segala bahaya dengan susah payah perjalan ini.&lt;br /&gt; Namun syukur kata-kata kami dan dari bapak Adriani disertai  berkat Tuhan, dapat mencegah kepergiannya. Nampaknya  pada periode  itu Papa i Wunte ingin lepas dari tangan Tuhan yang sudah berada diatasnya, karena peristiwa yang berikut juga terjadi pada tahun yang sama, Pernah saya baru tiba di Buyu Mbayau pada waktu  seseorang yang berpengaruh disitu diketemukan  dalam keadaan pingsan dekat sumber air, Setelah ia dibawah keatas dalam rumahnya, masih lama sebelum ia sadar kembali, dan pada saat itu ia nampaknya sudah menjadi bisu.&lt;br /&gt; Baru setelah satu hari ia dapat berbicara lagi, dan menceritakan bahwa seekor rusa telah mendekatinya dan berubah menjadi seorang anak perempuan yang tinggal dibekas desa Kayuku. Gadis itu menceriterakan kepada lelaki ini, bahwa ia telah memakan hati beberapa  orang yang belum  lama meningal, dan bahwa ia sekarang mencari  suatu kesempatan  untuk melakukan hal yang sama dengan hati Papa i Wunte dan Papa i Tobubu ( juga seorang kepala suku Pebato). Sekarang semua orang telah yakin bahwa mereka berurusan dengna suatu Pongko.&lt;br /&gt; Saya mendesak Papa i Wunte supaya tidak campur tangan dalam hal ini; bahwa ia telah cukup mengenal Allah untuk mengetahui suatu Pongko tidak dapat  menyakitnya  apabila ia percaya pada Tuhan. Ia berdiam saja, tetapi  pada suatu hari saya  menerima kabar  bahwa suatu  rombongan  lelaki dewasa  dipimpin Papa i Wunte telah berada di Kayuku  untuk menuntut kematian anak perempuan tersebut yang dianggap mepongko. Anda mungkin masi ingat bahwa mereka yakin akan kesalahan seseorang yang dituduh mepongko  melalui suatu tes dimana terdakwa itu harus memasukan jarinya dalam dammar yang mendidih, Apabila  jarinya tidak terbakar, orangnya dianggap  tidak bersalah. Akan tetapi pada waktu itu ada seorang kepala desa  disitu yang umumnya di hormati  dan cukup berpengaruh, yang namanya Ta  Danuji.&lt;br /&gt; Dialah yang meyakinkan  orang Pebato itu bahwa pertama mereka harus membutkikan bahwa anak  perempuan tersebut dalam bentuk rusa telah berada di sumber air desa Buyu Mbayau, Hal itu hanya dapat dibuktikan melalui suatu sidang dewa, Baik dari lelaki Pebato maupun dari lelaki desa Kayuku seseorang maju, untuk melempar sebuah tombak, Pihak  yang tombaknya paling dalam masuk ke tanah adalah yang benar. Ternyata tes ini menguntungkan pihak Kayuku, dan orang Pebato terpaksa mundur. Anak perempuan itu tetap hidup, dan tinggal dikuku sebagai  ibu beberap anak.&lt;br /&gt; Saya tidak perlu lagi menerangkan betapa beratnya pergumulan kami selama peristiwa ini. Kami merasa bahwa Tuhan bekerja dalam hati orang ini dan bahwa  hanya kuasa Injil dapat menguatkannya. Ada juga petunjuk  bahwa itu memang terjadi dan kami bersyukur  bahwa  Papa i Wunte  tidak lagi dapat melepaskan dirinya dari tangan Tuhan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8938059393783141372-1082630716347350818?l=simurudotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://simurudotcom.blogspot.com/feeds/1082630716347350818/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/chapter-9-kuatnya-kuasa-kegelapan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/1082630716347350818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/1082630716347350818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/chapter-9-kuatnya-kuasa-kegelapan.html' title='chapter 9. Kuatnya kuasa kegelapan menghambat penerbosan injil'/><author><name>christian simuru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04165711740216658641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/SnqVGVKa7QI/AAAAAAAAAC0/Hx8Nt7i1lnA/S220/edit+finising.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8938059393783141372.post-6959613817369120699</id><published>2009-07-16T05:43:00.000-07:00</published><updated>2009-07-16T05:44:12.532-07:00</updated><title type='text'>chapter 8 Pengaruh injil yang semakin kuat</title><content type='html'>Papa i Wunte  sudah segera yakin tentang kebenaran Injil bagi dirinya sendiri. Seringkali  ia mengakui hal itu secara terbuka  dalam pertemuan dimana ia selalu hadir apabila ia berada dirumah, Saya pernah berada di Panta waktu Papa i Wunte  memberitahukan ” Aku tidak akan datang ke pertemuan nanti malam, karena ada urusan pesta pengorbanan di Woyo Makuni. Saya jawab bahwa saya menyesal kalau ia memilih  pesta pengorbanan itu diatas firman Allah yang hidup. Tetapi  ia mengatakan bahwa pada pesta itu kehadirannya dibutuhkan. Pada malam itu tidak banyak orang datang kepertemuan kami oleh karena pesta pengorbanan itu, namun saya heran bahwa “papa” duduk digaris terdepan. ”saya berpikir anda telah berangkat ke Woyo Makuni”, Kata saya. “Tetapi tuan sudah mengatakan bahwa pertemuan  ini lebih penting” jawabnya,” itu sebabnya aku datang”.&lt;br /&gt; Setelah kita belajar tentang kelemahan watak Papa i Wunte, tidak ada yang heran lagi bahwa banyak waktu dibutuhkan sebelum ia dapat mengambil langkah pertobatan yang memutuskan. Ia sudah tidak mau kehilangan kami, tetapi ia juga tidak mau menyingung perasaan sebagian rakyatnya, dan orang Islam di pantai juga dianggapnya sebagai sahabat.Siapa yang mengenal orangnya akan sadar bahwa keraguannya tidak disebabkan karena ia kurang serius; ada semacam kasih terhadap manusia pada umumnya yang mendorongnya untuk ingin selalu berteman dengan setiap orang.&lt;br /&gt; Namun pengaruh Injil menjadi semakin kuat di dalam dirinya. Ia rajin betul dalam urusan sekolah dengan memberi pertolongan dalam pembangunan suatu sekolah yang  kecil di Panta. dialah orang pertama yang mengheranku pada waktu pesta panen dengan suatu permohonan supaya pada acara makan bersama kita bersyukur  berdoa kepada “ Allah yang besar itu”. Satu tahun sebelum hasil panen gagal secara total, dan saya pernah berdoa supaya Tuhan  Allah akan memberi berkatNya, dan nampaknya  itulah yang terjadi, Menurut Papa i Wunte bahwa pasti Tuhan Allah telah berpikir, kasihan orang miskin itu, betapa besarnya penderiataan mereka, Sejak peristiwa  itu  tidak lagi terjadi  acara makan secara umum tanpa  kami, atau salah satu dari para guru yang hadir, di undang untuk memimpin dalam doa syafaat.&lt;br /&gt; Juga pada acara pengorbanan untuk orang mati, dan pada pesta di Lobo yang terkadang di bawah pimpinan Papa i Wunte, pengaruh Injil  mula terasa. Perhatian orang-orang terhadap pesta itu semakin berkurang, dan baik Papa i Wunte  maupun istrinya binggung dengan perkembangan itu.” kami tidak dapat lagi meniadakan  bahwa agama kami kurang benar”, pernah diuraikannya dalam suatu pertemuan,” pasti  anak-anak  kami  akan menjadi Kristen ; tetapi bagaimana mungkin kami juga begitu saja meninggalkan  dewa kami?”&lt;br /&gt; Lama sekali, begitulah sikap Papa i Wunte  terhadap  kebenaran Injil. Karena wataknya yang lemah-lembut ia tidak dapat mengambil tindakan yang tegas, meskipun ia sadar bahwa ia perlu bertobat dan menerima Kristus. Ia  bermaksud menunggu  sampai orang  lain melangkah ke depan lebih dahulu, supaya ia , seorang pemimpin agama kafir, hanya perlu menyusul.&lt;br /&gt; Lama sekali ia berusaha meyakinkan adinya. Ta Rumpi , untuk maju lebih dahulu, tatapi hasilnya bawah Ta rumpi mulai menghindari kami, karena ia menduga kami berada di belakang desakan itu. Kalau persoalan perpindahan agama ini hanya tergantung pada istri Papa i Wunte , Ine i Maseka, Pasti sudah lama hal ini diputuskan, kadang-kandang ia datang mengeluh kepada kami mengenai keragu-raguan suaminya, tetapi ia selalu menjelaskan dengan penuh rasa hormat dan pengertian bahwa begitu banyak perkara  dipercayaakan kepada suaminya. Pada waktu anaknnya mereka cukup besar untuk masuk sekolah  ia langsung dikirim oleh ibunya.&lt;br /&gt; Pada kemudian hari anak itu datang tinggal dirumahku, dan setelah  keberangkatan kami  pada tahun 1905 ia tinggal dengan keluarga Hofman yang paling berpengaruh dalam pendidikan anak ini. Anak mereka Naka juga langsung masuk sekolah. ” paling tidak anak-anaku  perlu menjadi Kristen”, begitulah  bunyi pekataan Ine  i Maseka waktu kami berpisah pada tahun 1904. Kami semua setuju  bahwa Ine i Maseka  mempunyai  pengaruh yang sangat besar dalam menyakinkan  pengaruh  suaminya untuk mengambil  langkah pertobatan yang pada akhirnya diambilnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8938059393783141372-6959613817369120699?l=simurudotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://simurudotcom.blogspot.com/feeds/6959613817369120699/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/chapter-8-pengaruh-injil-yang-semakin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/6959613817369120699'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/6959613817369120699'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/chapter-8-pengaruh-injil-yang-semakin.html' title='chapter 8 Pengaruh injil yang semakin kuat'/><author><name>christian simuru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04165711740216658641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/SnqVGVKa7QI/AAAAAAAAAC0/Hx8Nt7i1lnA/S220/edit+finising.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8938059393783141372.post-4540379192509612611</id><published>2009-07-16T05:42:00.000-07:00</published><updated>2009-07-16T06:03:24.789-07:00</updated><title type='text'>chapter 7, Pendirian sekolah pertama di Panta</title><content type='html'>Papa i Wunte  adalah kepala suku pertama yang mengizinkan seorang guru menetap  didesanya, Panta. Tindakan itu cukup berani, dan ia banyak mengalami  perlawanan dari  kepala suku yang lain. Salah satu dari mereka menegaskan,”Orang pertama di desaku yang membawah potongan kayu  untuk membagun rumah guru, orang itu  pasti akan kubunuh.” Jadi pertolongan  yang kami dapat untuk membagun  rumah-rumah  guru yang pertama  sangat kurang. Pada waktu kami  ingin memajukan  pekerjaan ini dengan menempakan  seorang guru  di Buyu Mbayau, Kami berhasil hanya berkat dukungan  Papa i Wunte. Saya telah mengujungi desa tersebut dan bertemu dengan kepala desa, Papa i Lupi. Beliau telah meninggal, tetapi istrinya menceritakan betapa besarnya ketakutannyam sehingga ia tidak berani memandang wajah saya pada kesempatan itu. Lama kami berbicara  dengan kepala desa itu, dan menjelaskan  manfaat sebuah sekolah guna mendapat izin untuk menempatkan seorang guru disitu. Namun hasilnya tetap sama, yaitu  mereka tidak mau menerima seorang guru.&lt;br /&gt; Pada akhirnya  saya minta pertolongan Papa i Wunte. Dua bulan tidak ada berita, tetapi tidak lama kemudian karya Papa i Wunte  menyelenggarakan  pesta  penanaman. Banyak orang berkumpul di ladang  yang telah dipersiapkan, atara lain  kepala desa dan imam-pertanian dari Buyu  Mabyau. Saya sudah  menduga  bahwa perkara ini dapat diselesaikan selama pertemuan itu. setelah acara makan  bersama, Papa i Wunte berdiri dan mengatakan,” jadi disini telah hadir  Papa i Lupi  dan Papa  i Langi ( dua orang besar dari Buyu Mbayau tadi), dan semu yang ingi kukatakan ialah bahwa guru untuk desa mereka sekarang duduk di sini.” ( dan ia menuju kan guru yang kami siapkan itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/Sl8kw_z96_I/AAAAAAAAACA/IORrqaFCT54/s1600-h/foto-1.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/Sl8kw_z96_I/AAAAAAAAACA/IORrqaFCT54/s320/foto-1.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5359042505775901682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;(foto: Dr Adriani bersama anak didiknya )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya tidak berpikir perkara itu akan diselesaikan begitu cepat; pastilah hal ini merupakan hasil dari  banyak perundingan. Satu-satunya hal yang masih  diutarakan  oleh si imam pertanian ilah,” tetapi  julau guru ini meniggal di desa kami, apakah kalian tidak akan membalas kematiannya?” Saya menjawab “ Saya yakin kalian tidak menyakitinya. Dan apabila Tuah mengambilnya, kami tidak akan menyalahkan kalian.’ Begitulah permulaan  pekerjaan di Buyu Mbayau, yang sekrang disebut Longkida. Sekarang suatu jemaat yang kecil tetap hidup,merupakan buah pekerjaan itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8938059393783141372-4540379192509612611?l=simurudotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://simurudotcom.blogspot.com/feeds/4540379192509612611/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/chapter-7-pendirian-sekolah-pertama-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/4540379192509612611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/4540379192509612611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/chapter-7-pendirian-sekolah-pertama-di.html' title='chapter 7, Pendirian sekolah pertama di Panta'/><author><name>christian simuru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04165711740216658641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/SnqVGVKa7QI/AAAAAAAAAC0/Hx8Nt7i1lnA/S220/edit+finising.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/Sl8kw_z96_I/AAAAAAAAACA/IORrqaFCT54/s72-c/foto-1.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8938059393783141372.post-5900650766092350078</id><published>2009-07-16T05:40:00.000-07:00</published><updated>2009-07-16T05:56:27.377-07:00</updated><title type='text'>chapter 6, Perjuangan antara terang dan kegelapan</title><content type='html'>Papa i Wunte adalah orang pertama dari suku Pebato yang mendengar  pemberitaan Injil, dan sejak saat itu ia terus-menerus  mengikutinya. Pada tahun pertama orang yang datang mendengarkan saya, biasanya berkumpul  di rumahnya. Meskipun kebanyakan  orang Pebato  belum mengerti   maksud  pemberitahuanku,  Meskipun mereka mulai mengerti bahasaku, namun Papa i Wunte  segera menyadari tuntutan pertobatan. Setelah salah satu  pertemuan pertama, Papa i Wunte  bertanya,”Apabila saya menjadi Kristen, hal-hal apa saja perlu saya tinggalkan ?”&lt;br /&gt; Seringkali pertanyaan membuktikan bahwa ia merenungkan isi Injil  itu. Pada waktu  kami berusaha  dengna sia-sia untuk mendirikan sebuah sekolah, Papa i Wunte  mengatakan  kepada saya, “ Kami  kuatir  bahwa  sekolah ini akan merugikan nenek moyang kami.” &lt;br /&gt;Maksudnya bahwa sekolah ini akan menarik anak-anak keluar dari agama nenek moyang  mereka. Saya menjawab” Nenek moyang kalian dulu  tidak pernah   sempat mendengar Injil  dimuka bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/Sl8jEaBBWrI/AAAAAAAAABw/lIub5y-s2_k/s1600-h/rumah-lobo.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/Sl8jEaBBWrI/AAAAAAAAABw/lIub5y-s2_k/s320/rumah-lobo.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5359040640204233394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;( foto: Rumah lobo tempat pemujaan to poso mula-mula)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sekarang mereka melihat cucu mereka, dan bersikap sedih bahwa kalian mau menaati manusia saja. jikalau salah satu dari  nenek moyang  itu dapat kembali  kepada anda, pasti naesehatnya adalah ,” Pergilah ke sekolah itu dan  belajarlah  berdoa kepada Allah;  jangan berdoa  kepada kami  karena kami manusia saja.”&lt;br /&gt; Pada kesempatan yang lain  ia bertanya :” Tetapi  bagaimanakah  keadaan jiwa-jiwa nenek moyangku yang tidak pernah  mengenal Yesus?”.” Janganlah kuatir  tentang mereka saya menjawab, “mereka  juga berada dalam tangan Tuhan , dan Dialah Bapak yang penuh kasih ; mereka tidak sempat mendengar Injil  di muka bumi ini, tetapi anda sekarang telah mendengarnya dan bertanggungjawab terhadap Dia.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8938059393783141372-5900650766092350078?l=simurudotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://simurudotcom.blogspot.com/feeds/5900650766092350078/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/chapter-6-perjuangan-antara-terang-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/5900650766092350078'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/5900650766092350078'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/chapter-6-perjuangan-antara-terang-dan.html' title='chapter 6, Perjuangan antara terang dan kegelapan'/><author><name>christian simuru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04165711740216658641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/SnqVGVKa7QI/AAAAAAAAAC0/Hx8Nt7i1lnA/S220/edit+finising.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/Sl8jEaBBWrI/AAAAAAAAABw/lIub5y-s2_k/s72-c/rumah-lobo.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8938059393783141372.post-4289092645433423045</id><published>2009-07-16T05:37:00.000-07:00</published><updated>2009-07-16T05:39:23.774-07:00</updated><title type='text'>Pembahasan chapter 4 &amp; 5</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;tentang Papa i Wunte dan Ine i Maseka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu gelar yang paling disukai oleh To Poso khususnya mereka yang memimpin sebuah suku atau klan adalah gelar “papa” atau ayah. Gelar ini merupakan sebuah kehormatan yang sangat bergensi seperti seorang yang mendapatkan gelar professor di depan nama aslinya. Hal ini dilukiskan oleh Kruyt  dalam tulisannya tentang Papa i Wunte diamana ia sangat bangga bila ada yang memanggil Papa i Wunte dengan sebuat papa (ayah). Seperti yang dilukiskan dalam chapter sebelumnya tentang kelemahan Papa i Wunte, Ia sangat sedih bila ada orang yang berselisih dengan dirinya dan ia akan berusaha untuk berdamai dengan orang tersebut dengan cara apapun karena dia tidak mau orang tersebut membencinya dan berimbas pada hilangnya pengakuan papa atas dirinya. Menurut penulis Papa i Wunte merupakan sosok yang gila hormat namun dalam tanda kutip. sebab ia sangat bangga bila ia mampu menjadi ayah bagi orang lain dan mereka menghormati dirinya dalam ungkapan / sapaan papa atau ayah. Sedangkan sosok Ine Maseka merupakan bagian dari kisah tokoh Papa i Wunte yang tidak dapat dipisahkan, karena sebagai istri dari seorang kepala Suku Pebato yang dihormati pengaruhnya telah banyak membantu kepemimpinan suaminya. Khususnya ketika suaminya harus berhadapan dengan perkara-perkara yang sangat rumit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kebiasaan buruk &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di jaman Papa i Wunte tidak dikenal kepemilikan individu dalam kehidupan komunitas. Jadi meskipun sebuah kelompok suku bermukim dibeberapa tempat sehingga membentuk komunitas-komunitas misalnya komunitas Suku Pebato di pegunungan x dan komunitas Suku Pebato di pegunungan y, selama mereka masih mengakui bahwa mereka adalah satu bagian keluarga besar Suku Pebato maka segala perkara akan ditanggung bersama. Kebiasaan ini memberikan peluang beberapa oknum dari anggota Suku Pebato sendiri untuk mencari keuntungan dirinya sendiri meskipun harus merugikan kelompok keluarga besar dari suku pebatao. misalnya: ketika seorang dari komunitas Suku Pebato di pegunugan x berutang / mendapat denda dari suku lain yang berada disekitar wilayah pegunungan x, maka komunitas dari Suku Pebato yang tinggal di pegunungan y juga harus menanggung beban tersebut. Kebiasaan ini mungkin lebih tepatnya di ungkapkan dengan peribahasa nila setitik merusak susu sebelanga. &lt;br /&gt; Bagi penulis kebiasaan ini sangat menyudutkan sosok seorang Papa i Wunte, sebab ia mendapat tekanan dari luar maupun dari dalam sukunya sendiri. Diluar Papa i Wunte mendapat tekanan yang luarbiasa dari kesewenang-wenangan orang dari Suku Napu. Dari dalam Papa i Wunte menghadapi permasalahan anggota suku yang selalu berutang dengan suku lain tanpa terbebani karena ia yakin masalahnya akan dibantu oleh seluruh komunitas suku terutama salah satu kepala Suku Pebato yang terkenal sangat baik hati yaitu Papa i Wunte. &lt;br /&gt; Sehingga bila Kruyt menulis Papa i Wunte hidup sederhana dan tidak memiliki harta benda yang banyak secara logika ada benarnya, karena salah satu penyebab yang memiliki korelasi paling kuat adalah  budaya dan perilaku to Poso itu sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8938059393783141372-4289092645433423045?l=simurudotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://simurudotcom.blogspot.com/feeds/4289092645433423045/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/pembahasan-chapter-4-5.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/4289092645433423045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/4289092645433423045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/pembahasan-chapter-4-5.html' title='Pembahasan chapter 4 &amp; 5'/><author><name>christian simuru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04165711740216658641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/SnqVGVKa7QI/AAAAAAAAAC0/Hx8Nt7i1lnA/S220/edit+finising.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8938059393783141372.post-5657097692768567714</id><published>2009-07-16T05:35:00.000-07:00</published><updated>2009-07-16T05:37:15.601-07:00</updated><title type='text'>chapter 5, Mama i Maseka</title><content type='html'>Kelemahan dalam watak Papa i Wunte, yaitu bahwa ia ingin berteman dengan setiap orang. Pasti lebih merugikan apabila Ine i Maseka  bukan istrinya.  Perempuan ini  pula berada  diatas Orang Poso yang lain, disamping rasa hormat dan kasih  terhadap suaminya, ia juga menyadari kekurangannya. Dengan  penilaiannya yang  terang dan tindakan  yang berani, ia selalu  mendorong suaminya untuk bersikap  lebih keras dan mantap.&lt;br /&gt;Saya  sering menikmati  kesempatan untuk meninjau  kehidupan rumah tangga  mereka, pada waktu saya sering menginap  dirumah mereka. Setelah  semua  yang datang  mendengar pemberitaan  injil  telah pulang ke rumah mereka  masing-masing, dan Ine I Maseka membentangkan tikarku ditempat tidurku, saya masih lama dapat mendengar mereka  berbicara di kamar tidur mereka , Papa i Wunte selalu menceritakan  kepada istrinya  tentang  segala perkara  yang terjadi  pada hari itu. Ine i Maseka  ingin tahu semua, selalu  bertanya  dan sering saya mendengar ia mengatakan: “ kalau  itu terserah aku, hal itu atau hal ini tidak akan ku setujui atau lakukan.”&lt;br /&gt; Sejak tahun-tahun pertama saya berada di Poso, saya sudah yakin bahwa Ine i Maseka sangat mempengaruhi suaminya secara positip, kelakuannya selalu tenang, tetapi keyakinannya teguh,&lt;br /&gt; Salah satu kebiasaan orang Toraja, yang banyak menimbulkan masalah ialah yang berikut: kalau seseorang berhutan dan ia tidak melunasi  hutang  itu, si penagih hutang  berhak untuk mengambil ganti ruginya dari keluarga  atau suku yang dekat  dengan pihak  yang berhutang. Kemudian  mereka yang dirugikan perlu menekan pihak  yang berhutang uang adalah orang mereka. Kebiasaan yang buruk ini  telah dilarang  oleh pemerintah Belanda, berasal dari rasa solidaritas  dalam suku-siku Tanah Poso. Dulu tidak ada milik pribadi, segala  harta  kekayaan dimiliki seluruh suku. Jadi kau ada suku lain yang menagih  suatu hutang, mereka  tidak peduli siapa yang membayarnya, biarpun hanya orang tertentu yang menyebabkan  hutang tersebut.&lt;br /&gt; Pernah orang Napu menuntut hutang mereka yang berupa beberapa ekor kerbau  dari desa buyu mbayau, tetapi  desa ini tidak mu membayar karena mereka  mengatakan  tidak berhutan pada orang Napu itu, sebagai ganti rugi  orang Napu tersebut menangkap beberapa kerbau  dari desa Panta, dan dengan kerbau itu mereka ingin berangkat. tetapi seorang dari Panta melihat mereka, lari ke Panta dan melapor  bahwa antara lain seekor kerbau yang sangat disenangi oleh Ine i Maseka  sendang dirampas. Ketika para lelaki sedang  berdiskusi  soal itu, Ine i Maseka  sudah lari mengejar orang Napu itu, Setibanya di situ ia merangkul  kerbaunya, dan sambil menangisi berteriak: “aku tidak membiarkan kau pergi ke Napu, kaul kau pergi,kita berdua berangkat.”&lt;br /&gt;Terjadi perkelahian antara Ine i Maseka dan orang Napu itu. Mereka berusaha melepaskan dari ekor kerbau itu, dengan menarik rambutnya yang panjang, ia tidak takut kerbaunya dengan tanduk yang tajam. Tetapi pada akhirnya ia pingsan dan baru setelah ia dimandikan menjadi sadar kembali. Kerbau ternyata di bawah oleh orang Napu itu,&lt;br /&gt; Saya sudah menceriterakan diatas, bahwa Papa I Wunte pernah mengambil istri yang kedua, Meskipun itu sangat sulit bagi Ine i Maseka ia tetap mengabdi  pada suaminya. Dengan setia  ia melayani dan tidak pernah menyalahkan  suaminya. Namun setelah  perkawinan tersebut dibatalkan, kuat emosinya selama periode itu  menjadi jelas. Seringkali ia menceriterakan  dengan gerakan yang hebat dan  teriakan yang penuh emosi tentang periode itu. Meski ine I Maseka jauh lebih mudah daripada suaminya, semua orang memanggilnya ine ( ibu) , dan patut juga ia mendapat sebutan itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8938059393783141372-5657097692768567714?l=simurudotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://simurudotcom.blogspot.com/feeds/5657097692768567714/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/chapter-5-mama-i-maseka.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/5657097692768567714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/5657097692768567714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/chapter-5-mama-i-maseka.html' title='chapter 5, Mama i Maseka'/><author><name>christian simuru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04165711740216658641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/SnqVGVKa7QI/AAAAAAAAAC0/Hx8Nt7i1lnA/S220/edit+finising.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8938059393783141372.post-5700946741201986768</id><published>2009-07-16T05:34:00.000-07:00</published><updated>2009-07-16T05:35:50.248-07:00</updated><title type='text'>chapter 4 Papa i wunte sebagai " Ayah"</title><content type='html'>Ciri menarik dari Papa i Wunte  ialah ia senang disebut”papa’ ( ayah) oleh semua orang. ia tidak dapat bertahan  kalau  ada seseorang yang hidup tidak berdamai dengannya. Kalau itu  terjadi setiap cara digunakannya  untuk memulihkan   kembali  suatu  hubungan yang baik.  Hubungan yang selaras itu  menjadi nampak  dalam gelar” papa”. Para kepala yang sudah lanjut usia senang kalau mereka  disebut “ papa”  oleh orang asing, karena bagi orang Toraja  yang mengikuti pola  kemasyarakatan  dengan ayah  sebagai kepala keluarga, hal itu  menunjukan  suatu pengakuan  dari wewenang  mereka. Tetapi  bagi Papa i Wunte  nama ini mempunyai arti  yang lebih  mendalam lagi: ia sungguh-sungguh  mempunyai kasih seorang ayah terhadap orangnya.&lt;br /&gt; Saya tidak tahu mengapa saya mulai memanggilnya “papa”, tetapi hal itu  terjadi sejak pertemuan kami yang pertama. “tua  Boba” ( bapak adriani) adalah  yang paling tua di antara kalian, tetapi anda adalah anak lelakiku yang sulung”. Kata  Papa i Wunte kepadaku. Anda pertama-tama mulai memangilku “papa”, dan  setelah itu semua pendeta, istri mereka, para pengawal dan  para prajurit  ikut juga,” hal itu disertai  suatu senyum penuh rasa puas  pada wajahnya. Sewaktu saya mengunjungi Kasiguncu  pada awal  tahun ini ( 1910), Papa  i Wunte bertanya apakah saya telah  menemukan seorang  “ayah” dan “ibu”  di Pendolo, tempat tinggalku yang baru. “tidak” , saya jawab,” seorang ayah dan ibu seperti Papa i Wunte  dan Ine i Maseka  sulit ditemukan. Terutama  disekitar  pendolo dimana kami baru pertama datang setelah pemerintah Belanda. Di situlah  orang Belanda begitu  dihormati, bahwa  perempuan yang tua pun memanggilku “ Ngkai” ( kakek) dan istriku “ tu’a” ( nenek). Kalau begitu , mana mungkin saya dapat menemukan seorang “papa” dan seorang “mama” di situ.”&lt;br /&gt; Pernah  pada tahun 1901  ada sejumlah orang Pebato yang pergi mengayau diwilayah musuh mereka, orang kinadu. Mereka  sangat beruntung, karena berhasil merebut suatu desa kecil disana, dan kembali  dengan sekitar duabelas kepala manusia.&lt;br /&gt; Diwilayah orang Pebato mereka membuat suatu perjalanan kemenangan. Di setiap desa diadakan pesta di sekitar Lobonya dengan kepala-kepala manusia itu. Pada akhirnya  mereka juga tiba di desa Woyo Makuni, dimana Dr Adriani  tinggal waktu itu, dengan kegembiraan dan keramaian yang luar biasa para pahlawan mau mengujungi  Dr. Adriani, karena mereka mengharapkan  ia juga akan menghormati mereka. Tetapi  bapak Adriani mengecewakan mereka dan tidak mengizinkan  mereka  masuk kerumahnya, karena ia tidak mau menerima orang yang telah membunuh orang lain.&lt;br /&gt; Tentu mereka semua sangat tersinggung  dengan kelakuan yang keras dari Dr Adriani. Papa i Wunte  sangat bergumul dengan suasana yang menegangkan itu. Ia tidak mau memutuksan hubungannya dengan bapak Adriani, Tetapi juga ingin membela orangnya. Selama beberapa kunjungan ia berusaha mencari sesuatu kompromi dengan mengusulkan supaya perkara ini diselesaikan dengan suatu denda. Namun Dr Adriani  bersikap prinsipiil, dan hanya dapat mengakhiri  dorongan Papa i Wunte  dengan mengatakan:” mungkin anda memaksa saya dengan perkara ini untuk tidak lagi memanggil  ada sebagai “ papa” . Saya akan menyesal kalau begitu, karena saya tidak mungkin bersikap lain.” Baru setelah itu Papa i Wunte mau menerima sikap bapak Adriani  dan ia mengalah, karena ia tidak mau kehilangan  gelar” papa” oleh kami.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8938059393783141372-5700946741201986768?l=simurudotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://simurudotcom.blogspot.com/feeds/5700946741201986768/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/chapter-4-papa-i-wunte-sebagai-ayah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/5700946741201986768'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/5700946741201986768'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/chapter-4-papa-i-wunte-sebagai-ayah.html' title='chapter 4 Papa i wunte sebagai &quot; Ayah&quot;'/><author><name>christian simuru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04165711740216658641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/SnqVGVKa7QI/AAAAAAAAAC0/Hx8Nt7i1lnA/S220/edit+finising.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8938059393783141372.post-2748455989338407467</id><published>2009-07-15T07:33:00.000-07:00</published><updated>2009-07-15T07:41:34.526-07:00</updated><title type='text'>Pembahasan chapter 2 &amp; 3</title><content type='html'>Salah satu leluhur yang menjadi cikal bakal orang poso kebanyakan saat ini adalah Papa i Wunte beliau merupakan salah satu ketua Suku Pebato yang mendiami pucak gunung yang diatasnya terdapat desa bernama Woyo Makuni. Penulispun yakin semboyan yang sekarang ini dikenal dengan istilah sintuwu maroso merupakan buah pemikiran dari beliau yang di turunkan pada generasi-generasi selanjutnya.&lt;br /&gt; Apakah Raja Talasa yang merupakan raja poso yang termasyur saat itu juga merupakan keturunan dari Papa i Wunte, hmm tidak ada sumber yang mengatakan demikian. Tapi penulis yakin keturunan dari Papa i Wunte adalah orang-orang yang memiliki kelebihan khusus seperti dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ramah-tamah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Adapun seluk beluk kepemimpinan dari kepala suku To Poso yakni sebagai berikut, untuk menjadi seorang pemimpin sebuah suku, maka ia harus memiliki 3 ciri utama seperti yang diwajibkan oleh para pemimpin dari  Toraja yakni kemampuan untuk beramah-tamah, keberanian dan kefasihan berbicara. &lt;br /&gt;Ketiga ciri khas ini mungkin saja hanya dimiliki oleh segelintir pemimpin baik raja maupun ketua suku yang hidup dijaman itu. Sebab seorang pemimpin meskipun dia sangat berani dalam setiap pertempuran dan mampu melakukan diplomasi dengan baik belum tentu mereka akan bersikap ramah pada setiap orang yang ditemuinya. Olehnya merupakan sebuah kebangaan bila ke tiga ciri tersebut melekat pada sosok Papa i Wunte.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keberanian&lt;/span&gt; &lt;br /&gt; Jika membahas masalah keberanian, masing-masing pemimpin memiliki cara dan moment tersendiri. Tak terkecuali sosok yang dilukiskan pada diri Papa i Wunte, meskipun kisah keberaniannya hanya diceritakan oleh anggota dari suku yang dipimpinnya. Sebab Papa i Wunte sendiri enggan menceritakan hal tersebut, mungkin sikap itu dianggap oleh Papa i Wunte sebagai sikap merendah dan tidak mau menyombongkan diri. Salah satu kisah keberanian Papa i Wunte adalah ketika pada usia 15 tahun dengan seorang diri ia berani berhadapan langsung dengan seekor kerbau hutan betina (oleh penulis dianggap kerbau itu adalah Anoa) hanya dengan sebilah parang (sejenis golok ). Tindakan itu bagi To Poso pada umumnya adalah sebuah sikap nekat yang membutuhkan nyali yang sangat besar dan tidak semua orang berani melakukan hal bodoh seperti itu. Sebab kerbau betina (anoa) yang baru saja melahirkan / memiliki anak bayi yang masih kecil, cenderung akan menyerang siapa saja yang melintasi sarangnya. Kerbau tersebut akan menggunakan tanduknya yang tajam sebagai senjata dan akan mengusir siapa saja yang dianggap berpotensi menganggu anaknya meskipun harus membunuhnya. &lt;br /&gt;Sebagai tambahan berdasarkan cerita masyarakat yang sering berburu di hutan sewaktu penulis masih kecil, Kerbau betina akan sangat mematikan pasca beranak. Menurut mereka serangan kerbau hutan tidak layaknya seekor banteng pada umumnya yang menyerang lurus seperti yang kita lihat di arena matador. Kerbau hutan akan membungkukan kepalanya serendah mungkin ke tanah kemudian mengayunkan tanduknya ke atas layaknya pukulan upper cut dalam arena tinju. Penulis sulit melukiskan bagaimana jadinya bila mahluk hidup terkena serangan yang dikombinasikan dengan tanduk yang tajam. Namun menurut para pemburu itu untuk dapat mengalahkan atau menghidari kerbau hutan, kita harus berdiri di sisi tanah yang lebih tinggi darinya atau melawannya didalam sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kefasihan berbicara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bila membahas masalah kefasihan berbicara semua pemimpin di dunia siapapun dia kemampuan berbicara memang sangat dibutuhkan ketika mengadakan diplomasi untuk sebuah kasus. Khusus To Poso kefasihan berbicara yang dimaksudkan adalah kemampuan mengutarakan sesuatu dengan sebuah sajak ( pantun) kemudian di balas oleh lawan bicaranya begitu seterusnya hingga salah satu diantaranya kehabisan perbedaharaan kata dan terdiam (lihat: debat pidato). Pihak yang terdiam dinyatakan kalah dan harus membayar denda. selanjutnya pihak pemenang akan memberikan sebagian hasil kemenangan atas kasusnya pada orang yang memenangkan debat. Olehnya dapat disimpulkan pula para pemimpin memperoleh pendapatan (lihat: Gaji) dari kemampuannya berbicara.&lt;br /&gt; Papa i Wunte salah satu dari sekian banyak pemimpin suku yang memiliki kemampuan itu, dan ia saring dimintai pertolongan oleh orang lain bahkan di luar wilayah kekuasaanya.  hal ini di buktikan dengan “tangga licin” sebuah istilah untuk menjelaskan tangga kayu di sebuah rumah khas To Poso mula-mula, yang akan halus dengan sendirinya apabila sering digunakan oleh orang dalam kurun waktu tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/Sl3py0SuvXI/AAAAAAAAABY/uvvGxYh45YQ/s1600-h/foto-wunte%26-Maseka.2.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/Sl3py0SuvXI/AAAAAAAAABY/uvvGxYh45YQ/s320/foto-wunte%26-Maseka.2.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358696190880693618" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;(foto: Ine i Maseka &amp; Papa i Wunte saat lanjut usia)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan Papa i Wunte, Raja Sigi Dan Ine Maseka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Salah satu kelebihan yang dimiliki oleh Papa i Wunte merupakan kelemahan bagi dirinya sendiri. Kelemahan yang dimaksudkan oleh penulis adalah kelebihanya untuk bersikap terlalu baik pada siapa saja. Akibatnya ia dalam memutuskan sebuah perkara sering kali tidak tegas bahkan ia seringkali harus menanggung rugi atas perkara yang di timbulkan oleh orang lain.&lt;br /&gt; Kelemahan Papa i Wunte kemudian digunakan oleh orang-orang Napu sebagai kekuatan untuk menindas Suku Pebato ( suku yang di pimpin oleh Papa i Wunte ) dengan memberikan denda yang tidak wajar atas sebuah perkara, bahkan merampas hasil panen maupun ternak peliharaan Suku Pebato. Tidakan Suku Napu ( to Napu ) yang semena-mena terhadap kelompok Suku Pebato dikarenakan pada masa sebelumnya terjadi perang antara klan Suku Pebato dengan Suku Napu yang dimenangkan oleh Suku Napu. Kenyataan ini mendorong Papa i Wunte untuk berpikir meredam perlakuan Suku Napu dengan melamar salah satu anak petinggi Suku Napu yang pada saat itu dipimpin oleh raja Sigi. Adapun wanita yang dilamar oleh Papa i Wunte yaitu Ine i Maseka dan menikah pada tahun 1895  kisah ini mengingatkan penulis pada kisah sejarah temujin (Khan agung) yang melamar borte sebagai istrinya untuk mempersatuhkan 2 suku nomaden di padang rumput china. Namun kenyataanya tindakan Papa i Wunte yang menikahi gadis dari Suku Napu tidak mengurangi penindasan Suku Napu terhadap Suku Pebato.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8938059393783141372-2748455989338407467?l=simurudotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://simurudotcom.blogspot.com/feeds/2748455989338407467/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/pembahasan-chapter-2-3.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/2748455989338407467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/2748455989338407467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/pembahasan-chapter-2-3.html' title='Pembahasan chapter 2 &amp; 3'/><author><name>christian simuru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04165711740216658641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/SnqVGVKa7QI/AAAAAAAAAC0/Hx8Nt7i1lnA/S220/edit+finising.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/Sl3py0SuvXI/AAAAAAAAABY/uvvGxYh45YQ/s72-c/foto-wunte%26-Maseka.2.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8938059393783141372.post-8621765138430759299</id><published>2009-07-15T07:30:00.000-07:00</published><updated>2009-07-16T05:33:30.865-07:00</updated><title type='text'>chapter 3 Kelemahan Papa i Wunte</title><content type='html'>Kelemahan Papa i Wunte ialah bahwa ia  senantiasa ingin bersahabat dengan setiap orang. Itu sebabnya seringkali  ia tidak bisa bertindak  dengan keras. ia merasa dirinya tidak mampu  untuk  mengambil  suatu keputusan  terakhir. Percakapannya  menarik  dan masuk akal. dan itulah yang sering  menjamin  kemanangannya. kebaikan hantinya yang sungguh- sungguh  menarik semua orang  untuk membuka diri di depannya. tetapi  kuasa moril,  yang dibutuhkan oleh seorang kepala untuk memerintah anak buahnya, kurang  dimilikinya. orang  dari desanya  sendiri ( jadi  anggota keluarganya)  sangat dikasihaninya, tetapi  ia  tidak dapat mengatur mereka. jalan keluar, kalu ada yang menolak  perintahnya, adalah dengan menimbulkan  rasa malu dalam diri mereka yang menolak&lt;br /&gt;“ waktu anda di denda  orang Napu, bukankah aku yang  menolong anda mendapat seekor kerbau, tetapi  sekarang aku  minta anda tidak mau menolong. “dan kalau orang  yang menolak itu tidak terlalu bersikeras. Ia  menjadi malu dan menaati perintah tersebut.&lt;br /&gt; Pernah pada saat Papa i Wunte  membutuhkan  seseorang  yang dapat membawa sebuah pesan ke suatu desa yang berjauhan: ia menunjuk seorang  pemuda, namun pemuda itu mengatakan bahwa kakinya  sakit, Papa i Wunte  tahu bahwa   hal itu hanya suatu  alasan  yang dibuat-buat. Memerintahkan  dengan keras: ’Anda toh harus pergi”, tidak mungkin  dilakukannya” waktu  kamu berhutang  dan hampir di denda, bukankah kakiku juga sakit  dari semua perjalanan antara Mapane dan desa ini, guna membela kamu?” setelah perkatan itu, pemuda tadi berdiri dengan pelan. Mengambil berkas  dan pergi melakukan  tugas sambil terdiam.&lt;br /&gt; Pada waktu pemerintah Belanda  merebut wilayah Napu, ada bahan-bahan yang perlu diangkut  ke sana. Papa i Wunte  telah menunjuk beberapa orang  untuk menjadi kuli angkut. Tetapi  pada pagi hari yang berikut ada beberapa kuli yang tidak datang dan sengaja  menyembunyikan diri. Papa i Wunte sangat marah, tetapi ia tidak dapat memaksa mereka  yang tidak mau,  selain dengan  mengambil suatu bahan beban sendiri, dan mulai mengakutnya. Hal itu dianggap terlalu memalukan mereka yang menolak. Mereka muncul dari tempat persebunyian dan mengejar kelapala mereka untuk mengambil beban yang di pikulnya&lt;br /&gt; Dengan begitu Papa i Wunte dapat menyelesaikan  banyak perkara. Tetapi  bukan karena pengaruh  langsung dari jiwa yang kuat, tetapi dengan menimbulkan  rasa malu karena ia menujuk pada jasanya bagi mereka. Karena kelemahan wataknya ini ia memang  umumnya disenangi tetapi kekuatan dan pengaruhnya terbatas sekali.&lt;br /&gt; Para musuh sukunya dari Napu  sering menyalah gunakan  kelemahan Papa i Wunte. Orang  Pebato berperang melawan orang Napu, namun mereka  selalu kalah. Oleh karena itu  orang Pebato  sekarang ditaklukan orang Napu. Seorang ayah biasa menceritakan  kepada anak  lelakinya betapa kuatnya orang Napu.  sehingga mereka tidak dapat di lawan. Para ibu biasayan menceritakan pada anak-anak perempuan, betapa kasarnya orang Napu, yang begitu saja mengambil  sesuatu  yang disukai  mereka.  itu  sebabnya  para gadis  yang kembali  dari kebun  dengna hasil panen, lari kalau mereka melihat orang Napu. &lt;br /&gt; Dan karena orang Napu  tahu bahwa orang itu begitu takut, mereka berani  memaksa  bermacam-macam denda yang tidak adil. Orang Pebato  sering mengeluh, tetapi sudah tahu sebelumnya bahwa  mereka terpaksa  harus membayar  apa yang diminta. Sebagian besar  dari perkara-perkara, yang ditangani Papa i Wunte  menyangkut  denda-denda  yang tidak adil dari  orang Napu. Biasanya  Papa i Wunte pergi kerumah mereka yang di denda, dan berbicara dengan  mereka berjam-jam. Kadang-kadang ia berhasil  untuk mengurangi  denda itu, tetapi tidak pernah denda itu dibatalkan  seratus persen. Seorang Napu tidak akan pernah mengakui kesalahan dengan berdiam diri, dan Papa i Wunte tidak dapat mengatakan dengan keras: “ Denda itu tidak adil. Kamu menolak membayarnya” Pernyataan itu mengkin  boleh  diharapkan  dari Papa i Wunte, kalau ia marah  dan tersinggung secara pribadi. Tetapi  orang Napu itu bersikap  cukup cerdik  untuk mencegah  hal itu. Mereka  mencuri  kiri-kanan dari kebun-kebun  orang Pebato, tetapi para pembatu Papa i Wunte  tidak pernah kembali dengan berita: “saguer Bapak telah di curi oleh to Napu”&lt;br /&gt; Meskipun ia sendiri tidak diganggu oleh mereka, Papa i Wunte  sangat bergumul dengan penderitaan rakyatnya. Bertindak  dengan keras, yang sering  kami nasehatkan, Tidak  mungkin  baginya karena ia tidak mampu bersikap begitu. Tetapi segala cara  untuk mengutangi  beban rakyatnya, telah  dipakainya. Pernah  ia berjalan ke Sigi, Tempat tinggal raja Napu waktu itu, Raja Sigi  berjanji banyak, tetapi tidak ada perubahan.&lt;br /&gt; Pada tahun 1895 Papa i Wunte  menikah  dengan seorang gadis  asalah Napu, yang ibunya  adalah seorang  Pebato. Melalui ayah gadis ini mempunyai hubungan  keluarga  dengan salah satu kepala Suku Napu yang paling berpengaruh. Istrinya, ine  I maseka, sangat  sedih karena  perkawinan ini, tetapi  yang terutama mendorong Papa i Wunte  ialah harapanya untuk mendapat pengaruh diantara para kepala Napu, Sehingga melalui cara ini  ia dapat membebaskan  rakyatnya  dari penganiaayaan. Tetapi  setelah kita mengetahui kelemahan Papa i Wunte tidak seorangpun akan heran untuk mendengar  bahwa tidak ada perubahan: orang Napu tetap sedikit menghormati Papa i Wunte, tidak mengambil miliknya sendiri, tetapi  dari rakyatnya mereka tetap menuntut denda-denda  dan merampas  milik mereka. Perkawinan tersbut perlu dibatalkan  setelah empat tahun, karena  Papa i Wunte sendiri tidak dapat bertahan  dengan istrinya dari Napu itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8938059393783141372-8621765138430759299?l=simurudotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://simurudotcom.blogspot.com/feeds/8621765138430759299/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/chapter-3-kelemahan-papa-i-wunte.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/8621765138430759299'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/8621765138430759299'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/chapter-3-kelemahan-papa-i-wunte.html' title='chapter 3 Kelemahan Papa i Wunte'/><author><name>christian simuru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04165711740216658641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/SnqVGVKa7QI/AAAAAAAAAC0/Hx8Nt7i1lnA/S220/edit+finising.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8938059393783141372.post-8344385268930684428</id><published>2009-07-15T07:25:00.000-07:00</published><updated>2009-07-15T07:28:20.822-07:00</updated><title type='text'>chapter 2  kelebihan Papa i Wunte</title><content type='html'>Dengan cara ini saya mulai mengenal Papa i Wunte sebagai seorang kepala suku toraja. Tiga ciri utama yang diwajibkan  untuk seorang kepala ialah: keramah-tamahan, keberanian  dan kefasihan berbicara.&lt;br /&gt;Papa i Wunte  adalah seorang yang sangat ramah. biasanya  ada tamu dirumahnya, jarang rumahnya kosong. dan ia selalu menerima  mereka dengan  gembira, meskipun  kadang-kadang ia hanya dapat  memberikan sepotong jangung saja. Saya masih ingat bahwa saya pernah pergi  kerumah di kebunnya: Papa i Wunte  sedang membersihkan suatu ladang  hutan guna  menanam padi disitu. Gubuk itu hampir kosong karena ia mau  pulang  ke desa malam itu. Sudah beberapa kali selama percakapan  kami ia mengeluh :” Tidak  ada sesuatu  yang dapat kuberikan  kepada tuan” Saya selalu menegaskan bahwa itu  tidak perlu juga,  tetapi tiba-tiba ia memanggil “ tunggu dulu, aku masih mempunyai sepotong sambiki”, dan segera ia mencari seperempat dari sebuah labu dari tasnya, dan memberikan kepadaku. saya makan  supaya ia dapat tenang sedikit, tidak mengherankan  bahwa semua  orang senang  dengan Papa i Wunte karena keramah-tamahan.&lt;br /&gt;Kami bertemu dengan banyak orang poso, yang mengaggap dirinya sangat berani, namun kami yakin bahwa banyak dari mereka akan gagal testing apabila  sungguh-sungguh ada bahaya. Kedua kepala suku Poso  yang paling terkenal, papa  I malepo dan Papa i Wunte, biarpun watak mereka sangat  berbeda, tidak pernah berbicara  sendiri tentang  keberanian mereka; kisah kepahlawanan mereka selalu diceritakan  oleh  orang lain. Kedua-duanya sangat berusaha utuk hidup  berdamai, dan sering berkorban  dengan milik  mereka  sendiri guna menenangkan orang yang sedang bertikai. Tetapi apabila mereka dipaksa untuk berperang  mereka memimpin pasukan mereka  penuh kebijaksanaan dan keberanian. &lt;br /&gt;Pernah  pada salah satu malam waktu kami duduk  di sekeliling  obor, Papa i Wunte  mulai  menceritakan  sesuatu yang terjadi waktu ia berumur  sekitar 14 atau 15 tahun. “ waktu  itu saya  sedang dalam perjalanan  melalui  gunung-gunung  bersama ayahku, pada suatu siang  aku  pergi mencari  kayu  api. Pada saat aku kembali  dengan kayu  itu dan berada di  tempat terbuka, seekor  kerbau betina  yang sangat ganas mendekatiku. Aku melapaskan  kayu itu, mengambil parangku  dan memakainya sebagai pedang  untuk melindungi diriku. Selama parang itu ada di antara kami, kerbau itu  tidak dapat menyentuhku. Pada akhirnya ia bosan dan mulai mundur. Pada saat itu juga aku berlari menuju suatu jurang yang tidak jauh. Saya lompat kedalam jurang itu dan dapat menyelamatkan nyawaku dengan memegang ranting sebuah pohon. Si kerbau yang mengejarku tidak berani masuk ke dalam jurang itu. Aku penuh dengan luka dari duri dalam jurang itu. tetapi  dapat mencapai gunung di seberang jurang itu dengan selamat. Disitu  tiga orang dari rombongan kami sedang melihat perkelahianku dengan kerbau itu, tetapi tidak  berbuat apa-apa. tentunya aku marah, tetapi  mereka mengatakan kami tidak datang menolongmu, karena kami ingin melihat apakah kamu berani  atau tidak ”  tetapi mereka bohong, karena ternyata mereka sendiri teralu takut akan kerbau itu”. Ya sebagai anak mudah ia sudah berani, jawab salah satu hadirin  itu, dan saya yakin cerita  itu sangat berkesan bagi mereka, karena biasanya  mereka cepat kehilangan kontrol atas dirinya dan kalau ada yang tidak begitu dianggap berani.&lt;br /&gt;Salah satu tugas seorang kepala suku toraja  dulu adalah menghakimi. kemenangan atau kekalahan  dalam suatu perkara biasanya diputuskan oleh  kefasihan berbicara seseorang  yang membela dirinya. Kedua pihak  yang bertikai, biasanya  diwakili oleh kepala masing-masing, bercakap begitu lama sampai salah satu pihak kehilangan bahan bicara.&lt;br /&gt;Berdiam berati mengakui  kesalahan, dan dengan demikian pihak yang lain telah memenangkan  pekara itu. Kalau kedua-duanya tetap membela dirinya, perkara itu hanya dapat diputuskan melalui kekerasan ( yang mengakibatkan  perang), atau  dengan membiarkan  para dewa yang memutuskan. Tidak perlu seseorang meminta pertolongan kepala desanya sendiri. kau ia lebih percaya pada kepala lain. orang itu juga dapat diminta pertolongannya . Dan  biasanya  mereka pergi kepada  orang yang telah menjadi terkenal dalam memenangkan perkara-perkara. Para kepala amat bangga, jikalau banyak orang datang memakai jasa mereka. “ tangga  rumah sudah licin” ( keran banyaknya tamu yang naik turun), adalah  suatu pujian yang digemari  oleh seorang kepala. dan tangga dirimah  Papa i Wunte  memang licin karena sudah banyak mereka yang telah datang  meminta pertolongannya. Kebanyakan tamunya  datang untuk membahas kesulitan mereka.&lt;br /&gt;Karena diseluruh dunia hati manusia sama, kami tidak heran bahwa juga  diantara kepala  orang poso ada orang  yang menghakimi dengan memandang siapa orangnya. Kami hanya mengenal orang tertentu yang mau membela seseorang apabila ia sudah dapat dipastikan bahwa ia akan menang, karena banyaknya bukti  atau lemahnya lawan yang dihadapi. jikalau seseorang menang, kepala ikut rugi karena perlu menolong membayar denda  yang ditentukan, dan apabila  seseorang  menang ia mendapat  sebagian  dari denda yang dibayar  oleh pihak yang lain.&lt;br /&gt;Kami yakin bahwa Papa i Wunte siap untuk menolong  setiap orang yang datang kepadanya, ia hidup  bagi “ anak-anaknya”, demikianlah penggilan para pengikut seorang kepala. Buktinya bahwa ia tidak mencari keuntungan untuk dirinya saja,  adalah bahwa ia tidak pernah menjadi kaya. Seiring ia berjalan jauh untuk menolong seseorang  dalam perkaranya.&lt;br /&gt;Pernah Papa i Wunte menceritakan tentang ibunya yang telah lama meninggal, waktu ibuku meninggal, semua orang sangat sedih karena ia sangat disenangi. alasanya ia disenangi ialah bahwa ia selalu siap untuk menolong setia orang. Itu baru  disadari pada waktu ia sudah tiada’ waktu itu saya berpikir:  banyak orang penting telah mempunyai ibu yang baik&lt;br /&gt;Papa i Wunte  merupakan suatu kekecualian di antara orang poso. bila tidak, ia tidak pernah akan begitu terkenal. karena disamping  segala  kekuatannya, ia memiliki suatu kelemahan dalam wataknya, yang mudah saja dapat menghilangkan  seluruh pengaruhnya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8938059393783141372-8344385268930684428?l=simurudotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://simurudotcom.blogspot.com/feeds/8344385268930684428/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/chapter-2-kelebihan-papa-i-wunte.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/8344385268930684428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/8344385268930684428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/chapter-2-kelebihan-papa-i-wunte.html' title='chapter 2  kelebihan Papa i Wunte'/><author><name>christian simuru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04165711740216658641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/SnqVGVKa7QI/AAAAAAAAAC0/Hx8Nt7i1lnA/S220/edit+finising.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8938059393783141372.post-8105368751367900568</id><published>2009-07-15T07:19:00.000-07:00</published><updated>2009-07-16T07:07:04.432-07:00</updated><title type='text'>Pembahasan chapter 1</title><content type='html'>Masyarakat poso mula-mula merupakan masyarakat yang terisolasi oleh alam (pengunungan dan hutan belantara) mereka terbagi atas 3 kelompok utama yakni kelompok masyarakat muslim yang kebanyakan tinggal dipesisir pantai, kelompok pedang seperti etnis china dan arab dan kelompok suku pedalaman yang diistilahkan oleh Kruyt sebagai kelompok masyarakat “kafir” (kata kafir: karena masih menganut kepercayaan pada roh leluhur ). Dari ketiga kelompok ini yang merupakan cikal-bakal orang poso saat ini berasal dari kelompok masyarakat ke 3 yang hidup dipwdalaman hutan dan akan dibahas lebih mendam, selanjutnya dalam tulisan ini diistilahkan oleh penulis sebagai To Poso ( orang poso)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/Sl8zwZy6ANI/AAAAAAAAACY/R7wc7Z8KYTQ/s1600-h/peta.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/Sl8zwZy6ANI/AAAAAAAAACY/R7wc7Z8KYTQ/s320/peta.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5359058988245319890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; (foto: peta yang dibuat oleh Kruyt, bandingan dengan peta Sulawesi sekarang )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pada tulisan Kruyt pembaca mungkin dibingungkan dengan beberapa istilah  mengenai penyebutan kelompok masyarakat ke 3 yang ada di sana. Sebab terkadang ia menjelaskan orang poso sebagai To Poso, terkadang ia menulis suku tertentu seperti Suku Pebato (to Pebato) dan terkandang menulisnya sebagai kelompok Orang  Toraja. Khusus untuk permasalahan mengapa Kruyt menjelaskan orang Poso sebagai bagian dari Orang  Toraja mungkin akan dijelaskan pada kesempatan yang lain. Namun kesimpulan sementara dari penulis bahwa To Poso diidentikan dengan Orang  Toraja mungkin karena sifat-sifat mendasar seperti adat istiadat dan norma sosialnya memiliki banyak persamaan. Kemungkinan lain yakni To Poso merupakan Orang-Orang  Toraja yang bermukim diwilayah tanah Poso lalu membentuk sebuah komunitas dan menamakan diri mereka Orang  Toraja yang tinggal di tanah poso dan disingkat To Poso. &lt;br /&gt; To Poso mula-mula merupakan kelompok masyarakat yang hidup menurut clan (suku) dan dipimpin oleh seorang kepala suku dengan gelar si pengayau. Pengayau merupakan sebuah tradisi berburu kepala dari suku lain, dimana suku yang menjadi incaran mereka adalah musuh bebuyutan mereka. Khusus untuk Suku Pebato pimpinan Papa i Wunte. Musuh bebuyutannya adalah orang-orang kinadu ( orang kinadu tidak dipaparkan secara jelas berasal dari suku yang mana, namun karena banyaknya perselisihan dengan Suku Napu, mungkin saja orang kinadu adalah bagian dari orang-orang Suku Napu: Penulis) &lt;br /&gt;To Poso secara fisik tidak tinggi dan memiliki hidung yang lebar dengan pekerjaan utama sebagai petani. Mereka lebih nyaman tinggal di bukit atau pengunungan. Menurut saya (penulis) mungkin karena dengan tinggal di pegunungan mereka dapat hidup lebih nyaman dan aman dari serangan suku lain. Karena pengunungan merupakan benteng alami yang melindungi mereka. &lt;br /&gt;Hal lain yang mengejutkan adalah pemahaman mereka tentang pengetahuan alam temasuk unik. Sebab mereka berpikir bumi ini berupa daratan luas yang datar dimana surga (tempat peristirahatan leluhur mereka) berada di tengah-tengahnya. &lt;br /&gt;To Poso seperti kebanyakan suku-suku lain di dunia dan di Indonesia pada umumnya mempercayai bahwa leluhur mereka yang sudah meninggal akan selalu menyertai, memelihara dan memberkati mereka. Sehingga bila panen mereka gagal seperti diserang hama atau bencana lainya mereka mendeskripsikan itu sebagai bentuk kemarahan leluhur. Olehnya mereka harus berkomunikasi dengan para leluhur dengan memberikan beberapa sesajen yang diperantarai oleh para imam yang prosesinya diadakan disebuah lobo (sejenis rumah pemujaan). Khusus untuk To Poso sendiri sebagai besar imamnya adalah wanita. &lt;br /&gt;Akan tetapi permasalahan keyakinan yang tidak dapat dijelaskan oleh para imam maupun ketua suku dari To Poso adalah  siapa dan bagaimana proses menciptakan alam, termasuk leluhur mereka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8938059393783141372-8105368751367900568?l=simurudotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://simurudotcom.blogspot.com/feeds/8105368751367900568/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/pembahasan-chapter-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/8105368751367900568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/8105368751367900568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/pembahasan-chapter-1.html' title='Pembahasan chapter 1'/><author><name>christian simuru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04165711740216658641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/SnqVGVKa7QI/AAAAAAAAAC0/Hx8Nt7i1lnA/S220/edit+finising.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/Sl8zwZy6ANI/AAAAAAAAACY/R7wc7Z8KYTQ/s72-c/peta.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8938059393783141372.post-4075010583866680448</id><published>2009-07-15T07:17:00.000-07:00</published><updated>2009-07-15T07:29:24.908-07:00</updated><title type='text'>Chapter 1 (bagian 2) Perkenalan pertama dengan Papa i Wunte</title><content type='html'>Papa i Wunte berpendapat  bahwa dunia ini  berbentuk rata, dan bahwa Sorga (tempat  tinggal Tuhan di Surga) berada di bundaran atasnya. Ia berpikir bahwa Belanda tidak  jauh dari  pinggir dunia, dimana bumi dan surga saling bertemu. Menurut dia  kalau Belanda begitu jauh, pasti itu sudah dekat tempatnya dimana bumi dan  surga saling bertemu. Menurut  dia kalau Belanda begitu  jauh, pasti  itu sudah dekat tempatnya dimana bumi  dan surga saling menyentuh, jadi disitu orang tidak memerlukan  imam-imam sebagai pengantara, tetapi mereka sendiri dapat mendekati Allah. Jikalu  pada saat itu  kemampuan saya untuk berbahasa  lebih baik, pasti telah terjadi  pemberitaan injil yang berguna. Namun hal itu masih sulit  bagiku. &lt;br /&gt;Saya berusaha  untuk menjelaskan  bahawa dunia ini bundar seperti sebuah bola, dan bahwa matahari  tinggal  diam. Tentu usahaku  hanya menghasilkan  suatu  senyum  yang sopan  dan penuh rasa tidak bercaya. Demikian  perkenalan pertama, dan awal persahabatan kami dengan salah satu kepala suku Pebato  yang paling terkenal. Dua tahun kemudian, waktu istriku  untuk pertama kali bertemu dengannya, waktu rumah  yang baru kami di Poso diresmikan, ia  sangat heran  melihat  lelaki  yang pendek, ramah  dan gembira itu, dan mengatakan “ Masa dia adalah seorang pengayau yang telah memotong kepala banyak musuhnya?.&lt;br /&gt;Segera setelah perkenalan ini, saya kembali  beberapa bulan ke Gorontalo  dengan niat untuk masuk kedalam wilayah to Pebato pada waktu saya  kembali lagi. Dan tidak lama setelah saya  tiba lagi  di Poso pada bulan September 1892, saya berangkat dengan seorang penujuk jalan ke desa Papa i Wunte. Nama desa itu adalah Woyo makuni  dan waktu pertama  saya naik kepuncak gunung  dimana terletak  desa itu, masih dapat saya rasakan. Kami sangat lelah  baru tiba  di atas, di mana  terdapat  suasana  yang  ramai dengan banyak  orang dan babi. Mereka yang belum pernah melihat saya tampak sangat heran; banyak ibu dan anak lari kedalam rumah mereka. Saya  berusaha memulai sesuatu percakapan  tetapi mereka tidak tertarik  sampai  salah satu dari mereka bertanya terus terang apa maksud  kedatanganku. saya menjawab  mereka” pertama saya ingin berkenalan  dengan saudara, dan kedua, saya ingin memberitahukan  kepada saudara  tentang Allah, karena saya tahu  siapakah yang menciptakan dunia ini? “ tidak hal itu kami tidak tahu”, jawab mereka. Kemudian  dengan  rasa gugup  dalam hari saya telah menyusun  cerita  penciptaan dalam bahasa Poso waktu  saya berada di Gorontalo. Saya mulai membaca dan menceriterakannya. Tidak lama  kemudian tiga  orang dari mereka tertidur, dan ada orang lain yang mulai sesuatu pekerjaan tangan  yang ribut. dengan mengukir  sebuah gelang  dari kerang yang besar. Ada lagi yang memandangku  penuh rasa heran sambil  menertawakan  saya. Saya tidak ingat lagi apa  yang dibuat yang lain, tetapi  tidak ada banyak perhatian  terhadap uraianku yang pasti dibawah dalam bahasa yang tidak dimengerti.&lt;br /&gt;Saya bertanya apakah temanku Papa i Wunte ada dirumah, dan ada yang menjawab bahwa ia sedang dalam perjalanan ke Napu. Satu minggu  kemudian ia telah kembali, dan saya mendaki gunung itu lagi. Papa i Wunte bertemu  dengan saya di tempat Lobo suatu tanda bahwa ia memandangku sebagai orang asing.” apa sebenarnya maksud kedatangan saudara kesini?’, ia bertanya&lt;br /&gt;Apakah bapak tidak ingat ? saya menjawab “ bukankan kita bersama-sama telah berbicara  tentang Allah? Allah mengasihi semua orang, dan aku pelayanNya  sehingga aku  juga mengasihi semua orang.  Hai itu kulakukan dengan merawat orang sakit, jadi aku tidak datang  untuk berdagang  dan mencari keuntungan, melainkan  untuk menceritakan  tentang kasih dan tindakan Allah.”&lt;br /&gt;Mulai saat itu setiap minggu  saya pergi dari poso ke Mapane untuk naik ke wojo makuni: pada waktu  sore saya  selalu  kembali ke mapane. setelah Papa i Wunte menerima  kami beberapa  kali di tempat lobo, persahabatan kami mulai berkembang, dan pada akhirnya  saya diterima dirumahnya, dan beberapa minggu kemudian  lagi ia mengundang saya untuk menginap dirumahnya. Saya  masih dapat merasa sukacita  dalam hatiku mendengar undangan itu. setelah itu saya sering  menginap dirumahnya, dan kalau setelah makan malam banyak orang berkumpul  di sekeliling  sebuah obor, saya sering sempat mengabarkan injil  melalui ceritera dari alkitab&lt;br /&gt;Beberapa bulan kemudian Papa i Wunte  membangun suatu rumah di lokasi yang lebih mudah  dicapai di mopajawa  dekat desa panta, yang baru saat itu didirikan  dan pada kemudian hari  menjadi terkenal sebagai tempat tinggal keluaraga Adriani.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8938059393783141372-4075010583866680448?l=simurudotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://simurudotcom.blogspot.com/feeds/4075010583866680448/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/chapter-1-bagian-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/4075010583866680448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/4075010583866680448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/chapter-1-bagian-2.html' title='Chapter 1 (bagian 2) Perkenalan pertama dengan Papa i Wunte'/><author><name>christian simuru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04165711740216658641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/SnqVGVKa7QI/AAAAAAAAAC0/Hx8Nt7i1lnA/S220/edit+finising.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8938059393783141372.post-5038181406512516555</id><published>2009-07-15T06:44:00.000-07:00</published><updated>2009-07-15T07:30:05.843-07:00</updated><title type='text'>Chapter 1 (bagian 1) Perkenalan pertama dengan Papa i Wunte</title><content type='html'>waktu sore pada akhir bulan mei 1892 saya sedang bekerja dalam rumahku di Poso. Ketenangan itu dipecahkan oleh suara seorang tamu yang bertanya apakah saya berada dirumah. Saya bertemu  dengan seorang yang pendek  dengan hidung  yang agak lebar. Ia nampak seperti kebanyakan petani, namun diwajahnya terdapat semacam cahaya  yang merupakan ciri  orang yang memiliki  damai dalam dirinya. Orang itu adalah Papa i Wunte. Saya telah bertemu dengan dia beberapa hari sebelumnya di desa pantai Mapane, dimana ia mambawa anak perempuanya yang mempunyai luka berat. Saya menasehatinya  untuk datang ke Poso  dimana kami  dapat merawat anak itu lebih baik. Sebelum ia ke poso, ia bertanya kepada pedangang Cina  hal-hal  apa yang kami gemari, dan pedangang itu menjawab bahwa pasti tuan Belanda suka kelapa muda dan ayam. Dan itulah yang dibawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/Sl3iHLfKTtI/AAAAAAAAABQ/aTxi3LMQxzM/s1600-h/foto-wunte%26-Maseka.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/Sl3iHLfKTtI/AAAAAAAAABQ/aTxi3LMQxzM/s320/foto-wunte%26-Maseka.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358687744611208914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;     (foto: papa i wunte dan ine maseka) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore menjadi malam, dan saya masih asyik bercakap dengan tamuku. Sambil duduk di bangku bambu di rumahku  yang sederhana, kami berbicara tentang banyak hal. Karena di Poso terdapat  baik orang islam maupun orang kafir, saya sering meminta tamu saya apakah mereka makan daging babi guna mengetahui agama mereka. Sambil tertawa Papa i Wunte menjawab bahwa ia suka daging babi hutan, tetapi pernah menjadi sakit setelah ia makan daging babi peliharaan. &lt;br /&gt;“jika saya mengunjungi desa bapak, apakah orang tidak akan menyerang  dan melukai saya? saya bertanya. “tidak” , ia menegaskan, “kami hanya menyerang orang napu” Berbicara tentang anak perempuannya yang sakit saya mulai  menceritakan  tentang kasih Allah yang mahakuasa. Pasti  bahasaku  masih kurang baik waktu itu, tetapi nampaknya  ia mengerti  sesuatu, karena ia bertanya: ‘ jadi, para Imam perempuan  tidak berkuasa atas orang sakit?”&lt;br /&gt;Kemudian ia bertanya dimana letaknya Belanda, dan saya menjawab bahwa Belanda  jauh dari Tana Poso. Reaksinya ialah :” Pasti Allah tinggal dekat Belanda, sehingga disitu tidak perlu ada imam-imam”. Hal itu masuk akal kalau kita  menyadari  bahwa para imam perempuan  di Tana poso mengatakan  bahwa roh mereka naik kepada Tuhan di Sorga  ketika mereka  mohon jiwa orang sakit  dikembalikan. Perjalanan keatas itu amat panjang, dan segala pengalaman  di jalan itu mereka beritahukan  melalui nyayian-nyanyian .&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8938059393783141372-5038181406512516555?l=simurudotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://simurudotcom.blogspot.com/feeds/5038181406512516555/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/chapter-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/5038181406512516555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/5038181406512516555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/chapter-1.html' title='Chapter 1 (bagian 1) Perkenalan pertama dengan Papa i Wunte'/><author><name>christian simuru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04165711740216658641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/SnqVGVKa7QI/AAAAAAAAAC0/Hx8Nt7i1lnA/S220/edit+finising.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/Sl3iHLfKTtI/AAAAAAAAABQ/aTxi3LMQxzM/s72-c/foto-wunte%26-Maseka.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8938059393783141372.post-6772322995335639775</id><published>2009-07-15T06:40:00.000-07:00</published><updated>2009-07-17T06:28:20.681-07:00</updated><title type='text'>Kata pengantar</title><content type='html'>Tulisan ini lahir atas dorongan beberapa pembaca yang sempat melihat isi di blog saya yang sebelumnya. di wwwpamonazone@blogspot. Akan tetapi karena kesibukan pada saat itu, dimana saya harus menyelesaikan skripsi maka kemudian blog itu terlupakan dan ironisnya passwordnya sendiri sampai saat ini tidak bisa diaktifkan lagi sehingga blog itu tinggal sejarah saja ^0^. Mungkin passwordnya telah diganti oleh seseorang atau mungkin saya sendiri sudah lupa angka kombinasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/SmB8K3NTibI/AAAAAAAAACg/_nkuBgZqpxo/s1600-h/Judul.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/SmB8K3NTibI/AAAAAAAAACg/_nkuBgZqpxo/s320/Judul.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5359420082631182770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;(foto: Buku yang diterbitkan oleh GKST tahun 1994 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan yang saya ambil dari orang yang membaca tulisan saya adalah mereka ingin tahu lebih banyak tentang masyarakat Poso ( To Poso), baik itu sejarah maupun kisah ( legenda ) yang menyertainya. Permasalahanya adalah fakta-fakta tentang keberadaan orang poso yang dibukukan sangat sedikit, sedangkan untuk saksi hidup kebanyakan sudah masuk usia lanjut bahkan banyak dari mereka sudah meninggal dunia. Ironisnya lagi banyak kisah orang poso diwariskan melalui media cerita dari seorang kakek / nenek sebagai dongeng untuk pengantar tidur atau menakut-nakuti cucu mereka agar tidak melangar norma-norma adat istiadat. Cerita itu diteruskan turun-temurun sampai pada suatu saat cerita itu hilang dengan sendirinya dikarenakan generasi selanjutnya engan mendengar kisah cerita leluhurnya karna dianggap kurang menarik dan terkesan dilebih-lebihkan. Mereka kemudian terlarut dalam dongeng orang lain yang sangat populer bahkan di filmkan seperti cerita para elf, dwarf, vampire dan lain-lain.&lt;br /&gt; Penulis kemudian mencoba mengambarkan  kehidupan masyarakat poso dari kacamata seorang Zending atau penginjil utusan dari belanda bernama Albert C.Kruyt yang dibukukan oleh Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) tahun 1994. Tulisan tersebut pada mulanya diusahakan oleh rumpun keluarga Drs.A.L.Sigilupu, kemudian bekerjasama dengan pihak GKST menterjemahkan naskah aslinya yang berbahasa belanda melalui dosen pengajar sebuah perguruan tinggi di Tentena bernama Henk van der  Velde MA. &lt;br /&gt; Tulisan ini kemudian dibagi atas 2 bagian; bagian pertama merupakan Tulisan asli dari Albert C Kruyt dan tulisan bagian ke dua merupakan pembasan menurut pemahaman penulis. Sebagai catatan meskipun tulisan ini merupakan tulisan pena seorang Zending (pengijil Belanda di tanah Poso) akan tetapi penulis tidak berusaha memasukan unsur “pengkristenan” dalam pembahasannya. Penulis semata-mata hanya ingin pembaca mengetahui gambaran bagaimana kehidupan masyarakat poso jaman dahulu kala.  Olenya bila dalam pembahasan ini ternyata penulis melakukan kesalahan penafsiran mohon untuk di koreksi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8938059393783141372-6772322995335639775?l=simurudotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://simurudotcom.blogspot.com/feeds/6772322995335639775/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/kata-pengantar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/6772322995335639775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8938059393783141372/posts/default/6772322995335639775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://simurudotcom.blogspot.com/2009/07/kata-pengantar.html' title='Kata pengantar'/><author><name>christian simuru</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04165711740216658641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/SnqVGVKa7QI/AAAAAAAAAC0/Hx8Nt7i1lnA/S220/edit+finising.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_zVthAEAuSdo/SmB8K3NTibI/AAAAAAAAACg/_nkuBgZqpxo/s72-c/Judul.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
